Minggu, 02 Desember 2018

Suddenly I'm 20, and I Still Don't Know What I'm Gonna Do With My Life.
š‘‚½December 02nd, 2018

"udah dua puluh tahun nih, udah bukan waktunya lagi untuk kekanak-kanakan; udah dua puluh tahun, kamu harus lebih bisa jaga diri; udah dua puluh tahun, kamu harus mulai nabung dan pikirin masa depan; udah dua puluh tahun, kamu harus menjadi pribadi yang lebih dewasa." -on and on and on.

Dari mereka yang ngetik di whatsapp, panggilan whatsapp, panggilan telepon, dan lainnya. Gue hanya membaca deretan chat tersebut dengan malas, mendengarkan orang yang nelpon gue dengan menggebu-gebu mengucapkan selamat blablabla dengan.. hambar, meh.

Gue nggak terlalu ambil peduli dengan hari ulang tahun. Terlebih semakin gede, semakin nggak peduli. Gue bahkan nggak pengen ada kue di hari ulang tahun gue. Tapi tahun ini, gue masih dapet -ok thanks.

Gue nggak tau kenapa ada orang-orang yang peduli banget dengan hari ulang tahun. Sampai-sampai ada yang perayaannya menghabiskan dana puluhan juta. Terlebih untuk orang-orang yang merayakan ulang tahun anaknya yang baru berumur 1 tahun secara besar-besaran (sumpah gue nggak tau harus ngomong apa..) Yang jalan aja belom bisa. Yang ngomong 'A' aja belom fasih. Yang penghabisan total dananya aja lebih besar dari dana orang nikahan -ini kemungkinan karena gue aja si yang sirik- tapi tetep aja menurut gue sangat disayangkan. Maksud gue, emang tu anak tau apa. Ya suka-suka mereka si ma, mungkin supaya nanti pas gede tu anak bisa ngeliat foto kecilnya pas usia satu tahun, dimana ulang tahunnya dirayain gede-gedean, blablabla.. sirik banget si lo!  maksud gue kalaupun merayakan ulang tahun mungkin bisa dengan tema yang lebih sosial lah ya dari pada perayaan hura-hura di hotel bla bla.. mungkin bisa berupa sedekah ke anak-anak di jalan, atau.. Terserah mereka si ma! sirik aja si lo! Well o..kay... tapi gue lebih suka melihat perayaan orang tahun seseorang yang sederhana dan bertema sosial si. Serah elu.

Kakak gue pernah bilang, kalo gue hidup itu harus bisa bermanfaat untuk orang lain, untuk orang-orang disekitar gue. Manfaat ke orang lain kaya gimana ya? Hah, nyatanya sampai sekarang kata-kata itu justru menjadi burden sendiri buat gue. Karena gue orangnya kaya gini, emangnya apa yang bisa gue lakukan sehingga gue bisa bermanfaat untuk orang lain? memiliki nilai guna untuk orang lain? Gue nggak tau apakah gue ada manfaat atau nggak untuk orang-orang disekitar gue. Selama 20 tahun gue hidup, gue belum pernah melakukan apapun. Dan bermanfaat ke orang lain? idk..

Beberapa waktu yang lalu, gue dan beberapa temen lagi chatting di whatsapp, dan tiba-tiba topik tentang "mau jadi apa" muncul. Yang satu mau jadi ini, yang satu pengen banget jadi itu, yang satu intinya dia mau kaya gitu. Dan gue ngerti passion mereka masing-masing. Nah gue?? Gue mau jadi apa?? Passion gue apa??

Hal itu pun gue pertanyakan ke diri gue berkali-kali. Terus lo mau jadi apa, ma? Emang passion lo apa??

Mau jadi apa aja gue nggak tau. Tentang mau jadi apa bener-bener nggak ada gambaran dan cuma bullshit semata di otak gue. Hal yang sama tiba-tiba ditanyakan oleh bapak penjual bakso depan kampus. Disaat gue baru mau makan bakso yang gue beli, tiba-tiba nggak ada angin nggak ada hujan si bapak nanya, "Memangnya kamu nantinya mau jadi apa, neng?" si bapak bertanya dengan santainya. Bakso yang udah nyampe depan mulut pun gue enyahkan kembali. Ada jeda beberapa detik sebelum gue menjawab "Emh... emangnya kenapa, Pak?" Gue bertanya balik dengan muka sok santai. "Ya nggak apa-apa, kan cuma nanya.."

Pengen nggak gue jawab, tapi 'ntar dikira gue jahat. "Emm.. nggak tau, Pak." Jawab gue santai. Kali ini dengan mulut gue yang lagi ngunyah."Loh! Kok nggak tauu???" Iya, beneran. Nada bapak itu ngomong tu kaya yang gue tulis ini. Gue aja sampe kaget dengernya. Takut-takut keselek nggak nemuin lebaran taun ini. Dan bapak itu pun melanjutkan kalimatnya yang hanya gue balas dengan mata yang menatap aspal didepan dengan kosong, ditambah gaya makan gue yang nggak berdosa.

"Memangnya kamu ambil jurusan apa?" Beliau kembali melanjutkan pembicaraan. Dan bukannya nggak sopan, tapi gue sebenernya nggak suka ditanya-tanya sama orang asing, terlebih gue lagi makan. Hah, tapi gue tetep jawab. Dan bapak itu kembali bicara "Nah, sebelum ambil itu kan pasti ada alasannya kenapa, terus nantinya mau bagaimana. Kan sudah jelas pastinya sudah ada perkiraannya sendiri, kalau kamu ambil itu berarti setidaknya blablabla...." Lanjut si bapak dengan logat Jawanya yang kental. Gue dengerin bapak itu menyelesaikan kalimatnya sambil mengunyah malas. Dan diakhir kalimat, gue menjawab dengan "He.. iya Pak.." Sebenarnya bapak itu baik banget, dan obrolan yang dibuka juga bukan sekedar small talk membosankan. Pikiran gue diantara kosong dan runyam banget, mengingat kembali chat mengenai topik "mau jadi apa" yang sebelumnya di bahas sama temen-temen. Pengen nggak memasukkan ucapan bapak itu ke hati, tapi kok sebenernya dalem. Tau ah. Sampai sekarang juga gue masih nggak ngerti mau gimana.

Saat orang-orang bilang, "udah dua puluh tahun nih, blablabla.." gue dalam hati juga bertanya-tanya, emang apa bedanya gue, semalem kemaren dengan sekarang? Iya kali gue bisa berubah seinstant itu. Paling juga perubahan sama lobus frontal gue yang mulai berkembang dengan sempurna. Lagi otak kita nggak akan tiba-tiba mengembangkan otak "dewasa" begitu kita ninggalin usia remaja kok.

Bertambah usia itu harus lebih wise ya? harus lebih dewasa? dewasa itu yang kaya gimana? harus lebih bisa ngatur diri? harus ngerti tujuan hidup? harus lebih yang apa lagi?? This kind of stereotype is bullshit.

Sementara dengan bertambah usia kaya gini aja gue masih nggak tau apa artinya. Nggak tau mau jadi apa. Mungkin gue bisa menjadi a total rebel? Yang pasti disini banyak hal yang gue pertanyakan dan gue otak-atik kembali. Hah, is it what it's called with a mini-mid-life crisis?

Ngomong-ngomong tentang bertambah usia, gue pernah takut untuk menjadi tua. Menua. Dimana pemikiran gue akan melambat, otak gue akan menyusut -mulai kehilangan volumenya, gua bakal mulai jadi pikun karena neuron-neuron di otak udah mulai berkurang dan gue nggak mau berakhir jadi bego.. dan merasakan perubahan drastis yang sama dengan fisik juga. Pathetic, huh?

Sebenernya gue takut membayangkan kalau gue masih harus hidup bertahun-tahun lamanya ke depan. Membayangkan hal mengerikan apa yang akan gue jumpai. Membayangkan ketidakadilan macam apa yang mungkin gue lihat maupun gue alami. Berapa lama lagi gue harus hidup dan survive disini...?

Harapan gue antara hidup dan kematian cuma satu. Yaitu supaya gue bisa pergi lebih dulu sebelum kedua orang tua gue. Kenapa? Karena gue egois. Gue saaangat egois. Karena gue nggak mau merasakan gimana sakitnya kehilangan orang-orang yang bener-bener gue sayang. Se-egois itulah gue. Gue nggak mau ngerasain gimana sakitnya, beratnya.. gue enggak mau!

Gue benci menjadi dewasa. Kehidupan ini jadi terasa begitu rumit dan kompleks. Gue kangen saat-saat dimana masalah gue hanyalah karena bangun kesiangan dan nggak bisa nonton serial favorit. Dimana krayon warna gue habis dan gue merengek-rengek minta dibeliin yang baru.

Dan hal-hal tentang masa kecil lainnya. Dimana gue selalu ngikutin ibu gue kemanapun ibu pergi. Dimana gue selalu minta oleh-oleh buku kalo kakak gue jalan-jalan. Dimana gue ngotot minta DVD kartun dan sibuk nontonin hi-5 dirumah. Dimana frekuensi saat kepala gue dielus-elus lebih sering dari sekarang. Dimana pagi-pagi gue selalu duduk depan pintu sambil baca buku dengan keras sampe ngebudegin kuping tetangga. Dimana gue selalu diajakin ke taman kota sama ayah gue setiap akhir pekan. Dimana gue selalu teriak 'bikinin teh..' ke ibu gue selepas ibu pulang dari masjid.

Gue selalu hidup dengan masa kecil. Gue saangat mencintai kehidupan gue yang satu itu, dan gue membawa kehidupan itu kemanapun gue pergi. Masih ada marah dalam hati gue, menanyakan kemana semua itu menghilang.

Kenyamanan menjadi seorang anak kecil. Dimana lagi-lagi, karena gue egois. Karena gue hanya mau merasakan bagaimana nyamannya dijaga (walaupun kakak gue galak banget), diperhatikan (walaupun ibu gue cerewet dan kerjaannya ceramah mulu), dimanja (walau gue juga nggak suka di manja).

Gue sangat merindukan masa-masa itu. Gue masih ingat dengan jelas gimana atmosphere yang dulu menyelimuti kehidupan gue. Lagu-lagu yang gue dengar, cerita dari DVD ejaan yang menampilkan wombat, hippo dan lainnya, series hi-5 wonderful journey favorit gue. Dan kalo gue sebutin satu persatu nggak akan kelar 'ampe maghrib. Semua hal itu masih gue konsumsi hingga sekarang. Dan mengingat semua itu, rasanya nyesek banget.

Jadi sampai sekarang gue belum make a deal with myself. Antara mau menyadarkan diri untuk mulai benar-benar mencari arti dewasa dalam diri gue sendiri, atau just grow up and act my age. Yang pasti, turning 20 yo, seems like just any other birthday to meNothing's so special. Dan juga, setiap orang menjadi dewasa pada waktu dan dengan cara yang berbeda. Dan mau dewasa segimanapun, gue yakin the childhood life will forever live in me dan gue nggak akan mau membiarkan itu pergi.

Yah.. gue juga nggak tau apa yang akan atau harus gue lakukan. Gue nggak tau apa yang akan terjadi kedepan. Gue nggak tau dimana dan bagaimana akan menemukan jawaban dari hal-hal yang gue pertanyakan. So, it might be better for me to sharpen my knife, right?

Sehari-dua hari, sebulan-dua bulan, setahun-dua tahun, mungkin nggak akan merubah apapun kalau nggak ada willingness dari si subjek itu sendiri atas perubahan dalam kehidupannya. Tapi gue juga mau mengatakan ke diri gue sendiri 'Nggak apa-apa ma. Nggak apa-apa lo belum mengerti apa dan bagaimana tujuan lo, apa yang akan lo lakukan dengan hidup lo. Someone has said "Yang penting terus berjalan". Lo punya setapak lo sendiri kok, hem? You don't need to have life figured out right now, ma..'

Dan tulisan kali ini akan gue tutup dengan salah satu line favorit gue, "She held herself until the sobs of the child inside subsided entirely. I love you, she told herself. It will all be okay.." Karena begitulah bagaimana gue memperlakukan diri gue sendiri.

Persis demikian.

Here We Bring Open Minded Territory.

2 comments:

  1. We're same... and the worst thing is.... when i feel like i just want to die. Sifat seperti kita jarang di society... sering banget kita ngerasain hampa.... walaupun disekelilingi orang-orang yang mungkin love that we're exist tetapi sekali lagi perasaan kita sendiri dan akan selamanya sendiri tetap menghantui isi pikiran terlebih lagi hati.... I bet you are an infp.

    BalasHapus
    Balasan
    1. it was pretty close. but infj here.

      oh and, cheer up! very unpleasant to know that there were people covered with gloominess like me out there.

      Hapus

Bring Peace to The World

Contact