Selasa, 07 Agustus 2018

Dieng Culture Festival 2018
š›²£August 7th, 2018

Lagi pengen ngomongin kampung halaman gue, Wonosobo. Lebih spesifiknya sih mau ngomongin Dieng. Akhir akhir ini kabarnya -dan dari berita yang ada, suhu di Dieng itu lagi dingin banget. Gue mau menghiperbolakan dinginnya, tapi nggak ngerasain langsung jadi kaya kurang afdhol aja. Kalo dari yang gue baca dan informasi yang gue dapat, suhu paling anjlok di Dieng itu sekitaran -4 sampai -5 derajat celcius. Ehm, itu dingin banget sih menurut gue. Dedaunan, rumput, tanah dan lahan pertanian terlapis sama es. Rerumputan jadi silver, pemandangan jadi kaya di dunia fiksi Narnia yang series pertama, pas kakaknya Lucy, si Edmund keluar dari lemari yang dia masuki dan terjerembab ke salju (nggak gitu-gitu juga sih) ditambah lagi kabutnya jadi tambah tebal. Secara di Dieng emang kabutan semua. Tapi fenomena bercuaca dingin ini memang sering menyambut saat musim kemarau tiba.

Berdekatan dengan fenomena ini akan diadakan Dieng Culture Festival (yang mana sudah diadakan pada tanggal 3-5 agustus kemarin). DCF tahun ini adalah penyelenggaraannya yang ke -9. Iri banget sama temen-temen yang bisa menghadiri acara tersebut. Gimana nggak iri, merasakan semaraknya Dieng Culture Festival di ketinggian lebih dari 2000 mdpl, di suhu yang sedingin itu dengan hiburan musik jazz dan disuguhkan acara kebudayaan yang Jawa banget. Dengan begitu banyaknya antusiasme dari pengunjung, dan yang pasti penerbangan ribuan lampion di ketinggian dataran Dieng. Ca-kep ba-nget. Bisa lo bayangin nggak cahaya-cahaya dari lampion itu menembus kabut, gue jadi inget film Tangled pas Rapunzel sama Flynn Rider lagi nyanyi di perahu kayu kecil di danau terus ada ribuan lampion yang diterbangkan dari kastil sebrang dan beberapa lampion terbang menuju ke arah danau, menembus kabut -probably look alike. Sambil menerbangkan lampion wisatawan menyenandungkan lagu Indonesia Pusaka juga. Semakin meriah.

Aaa jadi pengen kesana gue, too late girrlll.
Oke menyudahi diri gue yang meratap-ratap ria gue mau sedikit memberi penjelasan tentang Dieng Culture Festival ini. Biar kalo ada yang tertarik dan mau kesana seenggaknya udah rada-rada ngerti tentang apa tujuan dan isi dari festival tersebut. karena gue yakin banyak yang belum tau hal-hal itu, termasuk kita-kita juga yang orang sononya asli.
Oke, so, mulai dari mana ya..

Jadi awal tujuan diselenggarakannnya Dieng Culture Festival ini, yang mana pada awalnya dinamakan Pekan Budaya Dieng, adalah untuk meningkatkan pemberdayaan ekonomi masyarakat Dieng. Event ini diselenggarakan setiap tahun, awal penyelenggaraan pada tahun 2010. Dan sepertinya bisa dibilang salah satu upaya masyarakat/pemerintah dalam melakukan perlindungan dan pemanfaatan budaya juga sih. Dari penyelenggaraaan event DCF itu eksistensi budaya bagi daerah Diengnya sendiri akan terjaga. Jaman sekarang kalau kebudayaan tradisional nggak dijaga, nggak dilestarikan, ujung-ujungnya kepunahan menjemput. Dan alasan kenapa event ini juga menyajikan jazz music show, mungkin karena anak muda kalau cuma menikmati pertunjukan-pertunjukan budaya, excitement mereka mungkin nggak akan besar-besar amat, jadi untuk mengimbanginya di mixlah sama pertunjukkan jazz itu.

Pemanfaatan budaya ini juga dimaksudkan untuk memperluas industri pariwisata Dieng. dengan adanya DCF event sendiri akan banyak menarik perhatian wisatawan, baik wisatan domestik ataupun mancanegara. Dengan begitu pendapatan pariwisata Dieng pastinya akan meningkat. Hal itu nggak cuma memberdayakan kebudayaan Dieng atau kebudayaan Jawa Tengah pada umumnya tapi juga memberdayakan ekonomi masyarakat setempat. Banyak karya-karya handmade masyarakat termasuk jenis-jenis makanan khas Dieng sendiri yang bisa diperjual belikan. Nah, semakin banyak orang yang mengetahui karya atau makanan khas Dieng, kemungkinan besar penjualannya akan bertambah, bukan hanya di hari-hari festival berlangsung tapi juga terlepas dari festival itu diadakan. Kebayang dong gimana hal tersebut bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat Dieng pada umumya? Sorry gue bukan kloningan anak pariwisata dan ekonomi, jadi conclusion gue mungkin nggak ngena-ngena amat.

Disini gue akan menjelaskan the most awaited momentnya aja. Siapa juga yang nggak mencari-cari si the most awaited moment ini ?
So rangkaian dari kegiatan ini dibagi selama tiga hari. Puncak acara hari pertama DCF 2018 ini yaitu pertunjukan musik Jazz yang udah gue sebutkan sebelumnya, bertajuk Senandung Negeri di Atas Awan, representasi musik jazz sama Dataran Tinggi Dieng, karena daerah itu juga disebut sebagai negeri diatas awan, soalnya bukan hanya karena ketinggiannya tapi juga karena dia selalu terselimut kabut.

Hari kedua, yaitu pada tanggal 4 agustus 2018 banyak banget pertunjukan budaya digelar. Dan puncaknya adalah festival lampion. Ya, kaya most of the most awaited momentnya menurut gue. Ribuan lampion diterbangkan oleh wisatawan yang datang di pelataran Candi Arjuna, ditemani senandung lagu nasional -Indonesia Pusaka, riuh gemuruh suara dari wisatawan membuat dingin jadi lebih menyentuh, ye elah kaya disana aja lo! Seketika pemandangan langit Dieng bertabur cahaya lampion-lampion nan cantik. Lampion-lampion yang berisi doa dan pengharapan banyak orang. Cahaya kemuningnya seolah terbias ke lapisan kabut. Ini nih yang bikin speechless.

And for the last day, we have ruwatan rambut gembel. Yaitu prosesi pemotongan rambut gimbal. Di Dieng ada beberapa anak yang berambut gimbal. Acara ini sendiri diartikan sebagai pembebasan dan penghilang balak atau sial dalam diri si anak dan agar si anak memiliki rambut yang normal. Ada beberapa versi tentang terjadinya rambut gimbal pada anak-anak di sekitaran Dieng. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, rambut gimbal tersebut adalah titipan dari leluhur masyarakat Wonosobo, Kyai Kolodete. Jadi kisahnya Kyai Kolodete merasa kerepotan dengan beban rambut gimbal diatas kepalanya, jadi beliau menitipkan rambut gimbal itu ke anak turunannya. Sebelum prosesi ruwatan, anak-anak tersebut akan dibebaskan mengutarakan permintaannya. Dan permintaan tersebut harus dipenuhi. Karena kalau dari kepercayaan tradisonal, permintaan itu tidak lain dan tidak bukan adalah permintaan dari leluhur sendiri. Prosesi acara biasanya diawali dengan kirab menuju Candi Arjuna dan dilakukan acara ruwatan dipelataran candi. Rambut yang dipotong kemudian dilarung di Telaga Warna yang nggak jauh dari lokasi candi. Pelarungan ke Telaga warna yaitu karena aliran air telaga akan bermuara ke Pantai Selatan, sebagai simbol pengembalian bala yang dibawa anak berambut gimbal kepada para dewa atau ratu dari Pantai Selatan.

Ya begitulah setidaknya penjelasan dari gue, yang beberapa merupakan hasil pencarian dari beberapa sumber juga, hehe.. Gue juga nggak expert dalam hal kebudayaan itu, jadi nggak bisa menjelaskan dari hal yang gue tau aja, nanti ujung-ujungnya ngaco.

So, kalau tahun depan atau kapan tau kalian ada kesempatan ke Dieng Culture Festival, maka dateng aja. Nggak usah ragu. Nggak usah bingung akomodasi dll, karena cost di Dieng dan juga seputaran wilayah Wonosobo itu terjangkau kok, disana juga udah banyak homestay gitu. Dan terlepas dari DCF masih banyak lagi tujuan wisata yang ada disana. Malahan pembukaan area wisata tuh lagi gencar-gencarnya digarap sama pemerintah setempat. Kayaknya kampung halaman gue emang punya potensi besar untuk jadi icon wisata Jawa Tengah. Nyombong dikit nggak apa-apa lah ya. Mulai dari Lubang Sewu atau sering disebut juga dengan Grand Canyonnya Wonosobo, penyebutan nama alias ini bukan tanpa alasan yaa, next ada Gunung Prau (Salah satu bucket list gue yang belum kesampaian) pemandangan dengan karpet hijaunya irresistible banget, view gelombang awan dan sapaan Gunung Sindoro-Sumbing yang menjulang dihadapannya -yang akhir-akhir ini sering banget muncul di feed instagramnya Folk Indonesia. Ada juga Puncak Sikunir dengan golden sunrisenya. Gunung Sindoro yang gagah banget pula, Gunung Lanang yang viewnya ciamik dan instagramable banget. Dan masih banyak banget lainnya. Gue emang belom ke semua tempat itu, tapi gue bisa jamin kalo tempat-tempat tersebut worth it untuk dikunjungi.

So, kita harus mengangkat potensi budaya dan sumber daya bangsa sendiri yaa.. Banyak kan daerah-daerah di Indonesia yang menyajikan tempat wisata yang menakjubkan? Tadi gue baru nyebutin seklumit kawasan wisata di daerah gue aja. Belom kalo di daerah yang lain, terus mlintir-mlintir sampai ke Nusa Dua, Raja Ampat, Wakatobi, Flores. Jadi jangan cuma mewah-wahkan potensi budaya atau sumber daya luar negeri aja. Jangan cuma berpikir, Yahh kaya temen gue dong udah sampe di Iceland, dia foto keren banget di blablabla, viewnya ngena abisss tiada duanya ! atau yang modelnya kaya gini nih, Kaya gue dong, sekali upload feed instagram gue isinya jalan-jalan ke luar negeri semua, keren kaaannn..
Sumpah emosi jiwa ! Jadi ya begitulah.. sebelum keindahan dan keharmonisasian cerita tentang Dieng Culture Festival tadi direnggut sama emosi gue, gue mau cabut.

Inget ya kata-kata gue, kita harus bangga dan mengangkat potensi budaya dan sumber daya bangsa sendiri !
Ya karena kalo bukan kita yang mengembangkan, melestarikan, siapa lagi ??
Lo pikir orang-orang yang sekarang peduli dan melakukan pengelolaan tentang kebudayaan dan sumber daya akan hidup terus?
Enggak kan? Selanjutnya adalah tugas dan kewajiban kita sebagai generasi yang dimiliki negeri ini untuk meneruskan atau malah meningkatkan value budaya dan sumber daya, entah itu SDM ataupun SDA nya.

Here We Bring Open Minded Territory.

Bring Peace to The World

Contact