Senin, 07 Mei 2018

Untitled
𛲠May 07th  , 2018

Kadang.. gue punya pemikiran untuk hidup dengan diri gue sendiri.

Hidup memisah dengan dunia dan lainnya.

Menyepi disebuah tempat antah berantah yang akan gue sebut indah.


Tempat yang dilapisi savanna yang luas dan dikelilingi pepohonan.

Dengan beberapa bagian menguning dan dihiasi karpet bunga.

Dibelah sungai kecil yang senantiasa mengalir.

Dengan atapnya yang pasti, lautan langit berombak awan.


Dimana aku duduk bersandar di bawah pohon, dengan angin menyapu lembut rambutku.

Dengan langit yang seolah terbelah oleh jubah jingga yang semakin lama semakin memudar.

Diisi oleh pergantian hari yang jingga kekuningan - ungu keabuan.

Warna yang saling memburu berkompetisi dengan ombak putih yang seolah dilemparkan.

Tipis dan menggumpal, berwarna senada dengan sang surya dibeberapa sisinya.


Sinar hangatnya meredup.

Lalu disambut gelap yang cantik.

Dengan bintang bertabur pada gulitanya malam.

Banyak..

Baanyaak..

Benar-benar banyak.


Lalu aku berbaring di rerumputan.

Dengan wajah menengadah menatap jutaan keping berlian.

Oh, dan.. aku mendapat alunan instrumental dari suara hewan malam.

Beradu dengan deru gemericik sungai yang terdengar pelan.


Lalu paginya disambut si bintang subuh, Merkurius.

Dan diujung langit yang terpapas bumi, kau bisa melihat sang surya merekahkan dirinya.

Seolah langit terbelah dua, dan semburat jingga menyembur disetiap selanya.


Sungguh, kau tak perlu tawarkan aku apa-apa lagi.


Indah...

Seolah, aku tak perlu apa-apa lagi.


Indah...

Aku tak perlu apa-apa lagi.

Here We Bring Open Minded Territory.

Bring Peace to The World

Contact