AOTEAROA

I AM

image
Hi,

I'm Yin and Yang Girl

A girl with intensely Yin and Yang Personality inside. Someone who has a dream to be a remote island guard or a voice cast in Disney movie. Someone who’s sometimes considered too quiet by most people. This is my little corner where i can shed a lot of things on my mind. P.S : You might find the most sarcastic thoughts and words here, so.. get your filter on. Happy reading.


Education
I wish I was an Architecture Student

But I ended up majoring in IR LOL


Experience
Reading Books

From the Dusk till Dawn

Watching Movies

From the Dusk till Dawn


Skills or Goals
Swearing
Procrastinating
Live in A Fiction World
Monologue
SOME OF THOUGHTS

Suddenly I'm 20, and I Still Don't Know What I'm Gonna Do With My Life.

𑂽December 02nd, 2018

"udah dua puluh tahun nih, udah bukan waktunya lagi untuk kekanak-kanakan; udah dua puluh tahun, kamu harus lebih bisa jaga diri; udah dua puluh tahun, kamu harus mulai nabung dan pikirin masa depan; udah dua puluh tahun, kamu harus menjadi pribadi yang lebih dewasa." -on and on and on.

Dari mereka yang ngetik di whatsapp, panggilan whatsapp, panggilan telepon, dan lainnya. Gue hanya membaca deretan chat tersebut dengan malas, ngedengerin orang yang nelpon gue dengan menggebu-gebu mengucapkan selamat blablabla dengan.. hambar, meh.

Gue nggak terlalu ambil peduli dengan hari ulang tahun. Terlebih semakin gede, semakin nggak peduli. Gue bahkan nggak pengen ada kue di hari ulang tahun gue. Tapi tahun ini, gue masih dapet -ok thanks.

Gue nggak tau kenapa ada orang-orang yang peduli banget dengan hari ulang tahun. Sampai-sampai ada yang perayaannya menghabiskan dana puluhan juta. Terlebih untuk orang-orang yang merayakan ulang tahun anaknya yang baru berumur 1 tahun secara besar-besaran (sumpah gue nggak tau harus ngomong apa..) Yang jalan aja belom bisa. Yang ngomong 'A' aja belom fasih. Yang penghabisan total dananya aja lebih besar dari dana orang nikahan -ini kemungkinan karena gue aja si yang sirik- tapi tetep aja menurut gue sangat disayangkan. Maksud gue, emang tu anak tau apa. Ya suka-suka mereka si ma, mungkin supaya nanti pas gede tu anak bisa ngeliat foto kecilnya pas usia satu tahun, dimana ulang tahunnya dirayain gede-gedean, blablabla.. sirik banget si lo! Well o..kay...

Kakak gue pernah bilang, kalo gue hidup itu harus bisa bermanfaat untuk orang lain, untuk orang-orang disekitar gue. Manfaat ke orang lain kaya gimana ya? Hah, nyatanya sampai sekarang kata-kata itu justru menjadi burden sendiri buat gue. Karena gue orangnya kaya gini, emangnya apa yang bisa gue lakukan sehingga gue bisa bermanfaat untuk orang lain? memiliki nilai guna untuk orang lain? Gue nggak tau apakah gue ada manfaat atau nggak untuk orang-orang disekitar gue. Selama 20 tahun gue hidup, gue belum pernah melakukan apapun. Dan bermanfaat ke orang lain? idk..

Beberapa waktu yang lalu, gue dan beberapa temen lagi chatting di whatsapp, dan tiba-tiba topik tentang "mau jadi apa" muncul. Yang satu mau jadi ini, yang satu pengen banget jadi itu, yang satu intinya dia mau kaya gitu. Dan gue ngerti passion mereka masing-masing. Nah gue?? Gue mau jadi apa?? Passion gue apa??

Hal itu pun gue pertanyakan ke diri gue berkali-kali. Terus lo mau jadi apa, ma? Emang passion lo apa??

Mau jadi apa aja gue nggak tau. Tentang mau jadi apa bener-bener nggak ada gambaran dan cuma bullshit semata di otak gue. Hal yang sama tiba-tiba ditanyakan sama bapak penjual bakso depan kampus. Disaat gue baru mau makan bakso yang gue beli, tiba-tiba nggak ada angin nggak ada hujan si bapak nanya, "Memangnya kamu nantinya mau jadi apa, neng?" si bapak bertanya dengan santainya. Bakso yang udah nyampe depan mulut gue pun gue enyahkan kembali. Ada jeda beberapa detik sebelum gue menjawab "Emh... emangnya kenapa, Pak?" Gue bertanya balik dengan muka sok bego. "Ya nggak apa-apa, kan cuma nanya.."

Pengen nggak gue jawab, tapi ntar dikira gue jahat. "Emm.. nggak tau, Pak." Jawab gue santai. Kali ini dengan mulut gue yang lagi ngunyah makanan."Noh! Kok nggak tauu???" Iya, beneran. Nada bapak itu ngomong tu kaya yang gue tulis ini. Gue aja sampe kaget dengernya. Takut-takut keselek nggak nemuin lebaran taun ini. Dan bapak itu pun melanjutkan kalimatnya yang cuma gue balas dengan mata gue yang menatap aspal didepan dengan kosong, ditambah gaya makan gue yang nggak berdosa.

"Memangnya kamu ambil jurusan apa?" Beliau kembali melanjutkan pembicaraan. Dan bukannya nggak sopan, tapi gue sebenernya nggak suka ditanya-tanya sama orang asing, terlebih gue lagi makan. Hah, tapi gue tetep jawab. Dan bapak itu kembali bicara "Nah, sebelum ambil itu kan pasti ada alasannya kenapa, terus nantinya mau bagaimana. Kan sudah jelas pastinya sudah ada perkiraannya sendiri, kalau kamu ambil itu berarti setidaknya blablabla...." Lanjut si bapak dengan logat Jawanya yang kental. Gue dengerin bapak itu menyelesaikan kalimatnya sambil mengunyah malas. Dan diakhir kalimat, gue menjawab dengan "He.. iya Pak.." Sebenarnya bapak itu baik banget, dan obrolan yang dibuka juga bukan sekedar small talk membosankan. Pikiran gue diantara kosong dan runyem banget, mengingat kembali chat mengenai topik "mau jadi apa" yang sebelumnya di bahas sama temen-temen. Pengen nggak memasukkan ucapan bapak itu ke hati, tapi kok sebenernya dalem. Tau ah. Sampai sekarang juga gue masih nggak ngerti.

Saat orang-orang bilang, "udah dua puluh tahun nih, blablabla.." gue dalam hati juga bertanya-tanya, emang apa bedanya gue, semalem kemaren dengan sekarang? Iya kali gue bisa berubah se-instant itu. Paling juga perubahan sama lobus frontal gue yang mulai berkembang dengan sempurna. Lagi otak kita nggak akan tiba-tiba mengembangkan otak "dewasa" begitu kita ninggalin usia remaja kok.

Bertambah usia itu harus lebih wise ya? harus lebih dewasa? dewasa itu yang kaya gimana? harus lebih bisa ngatur diri? harus ngerti tujuan hidup? harus lebih yang apa lagi?? This kind of stereotype is bullshit.

Sementara dengan bertambah usia kaya gini aja, gue masih nggak tau apa artinya. Nggak tau mau jadi apa. Mungkin gue bisa menjadi a total rebel? Yang pasti disini banyak hal si yang gue pertanyakan, gue otak-atik kembali. Is it what it's called with a mini-mid-life crisis?

Ngomong-ngomong tentang bertambah usia, gue pernah takut untuk menjadi tua. Menua. Dimana pemikiran gue akan melambat, otak gue akan menyusut -mulai kehilangan volumenya, gua bakal mulai jadi pikun karena neuron-neuron di otak udah mulai berkurang dan gue nggak mau berakhir jadi bego.. dan merasakan perubahan drastis yang sama dengan fisik juga. Pathetic, huh?

Sebenernya gue takut membayangkan kalau gue masih harus hidup bertahun-tahun lamanya ke depan. Membayangkan hal mengerikan apa yang akan gue jumpai. Membayangkan ketidakadilan macam apa yang mungkin gue lihat maupun gue alami. Berapa lama lagi gue harus hidup dan survive disini...?

Harapan gue antara hidup dan kematian cuma satu. Yaitu supaya gue bisa pergi lebih dulu sebelum kedua orang tua gue. Kenapa? Karena gue egois. Gue saaangat egois. Karena gue nggak mau merasakan gimana sakitnya kehilangan orang-orang yang bener-bener gue sayang. Se-egois itulah gue. Gue nggak mau ngerasain gimana sakitnya, beratnya.. gue enggak mau!

Gue benci menjadi dewasa. Kehidupan ini jadi terasa begitu rumit dan kompleks. Gue kangen saat-saat dimana masalah gue hanyalah karena bangun kesiangan dan nggak bisa nonton doraemon. Dimana krayon warna gue habis dan gue merengek-rengek minta dibeliin yang baru.

Dan hal-hal tentang masa kecil lainnya. Dimana gue selalu ngikutin ibu gue kemanapun ibu pergi. Dimana gue selalu minta oleh-oleh buku kalo kakak gue jalan-jalan. Dimana gue ngotot minta DVD kartun dan sibuk nontonin hi-5 dirumah. Dimana frekuensi saat kepala gue dielus-elus lebih sering dari sekarang. Dimana pagi-pagi gue selalu duduk depan pintu sambil baca buku dengan keras sampe ngebudegin kuping tetangga. Dimana gue selalu diajakin ke taman kota sama ayah gue setiap akhir pekan. Dimana gue selalu teriak 'bikinin teh..' ke ibu gue selepas ibu pulang dari masjid.

Gue selalu hidup dengan masa kecil. Gue saangat mencintai kehidupan gue yang satu itu. Gue membawa kehidupan itu kemanapun gue pergi. Masih ada marah dalam hati gue, menanyakan kemana semua itu menghilang.

Kenyamanan menjadi seorang anak kecil. Dimana lagi-lagi, karena gue egois. Karena gue hanya mau merasakan bagaimana nyamannya dijaga (walaupun kakak gue galak banget), diperhatikan (walaupun ibu gue cerewet dan kerjaannya ceramah mulu), dimanja (walau gue juga nggak suka di manja).

Gue sangat merindukan masa-masa itu. Gue masih ingat dengan jelas gimana atmosphere yang dulu menyelimuti kehidupan gue. Lagu-lagu yang gue dengar, cerita dari DVD ejaan yang menampilkan wombat, hippo dan lainnya, series hi-5 wonderful journey favorit gue. Dan kalo gue sebutin satu persatu nggak akan kelar ampe maghrib. Semua hal itu masih gue konsumsi hingga sekarang. Dan mengingat semua itu, rasanya tu nyesek banget tau nggak.

Jadi sampai sekarang gue belum make a deal with myself. Antara mau menyadarkan diri untuk mulai benar-benar mencari arti dewasa dalam diri gue sendiri, atau just grow up and act my age. Yang pasti, turning 20 yo, seems like just any other birthday to meNothing's so special. Dan juga, setiap orang menjadi dewasa pada waktu dan dengan cara yang berbeda. Dan mau dewasa segimanapun, gue yakin the childhood life will forever live in me dan gue nggak akan mau membiarkan itu pergi.

Yah.. gue juga nggak tau apa yang akan atau harus gue lakukan. Gue nggak tau apa yang akan terjadi kedepan. Gue nggak tau dimana dan bagaimana akan menemukan jawaban dari hal-hal yang gue pertanyakan. So, it might be better for me to sharpen my knife.

Sehari-dua hari, sebulan-dua bulan, setahun-dua tahun, mungkin nggak akan merubah apapun kalau nggak ada willingness dari si subjek itu sendiri atas perubahan dalam kehidupannya. Tapi gue juga mau mengatakan ke diri gue sendiri, nggak apa-apa ma. Nggak apa-apa lo belum mengerti apa dan bagaimana tujuan lo, apa yang akan lo lakukan dengan hidup lo. Someone has said "Yang penting terus berjalan". Lo punya setapak lo sendiri kok, hem? You don't need to have life figured out right now, ma..

Dan tulisan kali ini akan gue tutup dengan salah satu line favorit gue, "She held herself until the sobs of the child inside subsided entirely. I love you, she told herself. It will all be okay.." Karena begitulah bagaimana gue memperlakukan diri gue sendiri.

Persis demikian.

Annoying List That I Can't Stand Anymore

𛲣October 28th , 2018
Seperti judul yang kalian baca, ini adalah beberapa list dari hal-hal menjengkelkan yang gue temui dan saking empetnya nggak bisa gue tahan lagi. Dan mungkin beberapa dari kalian memikirkan hal yang sama, atau enggak, bodo amat. Dan maaf atas kata-kata yang akan kalian dapat karena akan banyak kata-kata dan ungkapan yang jauh dari appropriate -semata-mata adalah ungkapan hati dan otak gue yang lagi ngeblunder ini. Pastikan kalian nggak nyuruh anak kecil untuk belajar membaca dengan tulisan gue ini. Ok so we'll get the list:

 1. Orang yang buang sampah seenak jidatnya dia.

Disuatu sore yang cerah, dimana arus lalu lintas untuk ukuran jam sore gitu jalan lancar-lancar aja, kelas asik-asik aja, nggak ada kerjaan atau apapun juga yang harus gue follow up, nggak banyak tugas, dan makanan yang gue makan kerasa enak dan gue menikmati jalan santai gue balik kampus dengan cuaca yang adem pula sambil ngeliatin bapak-bapak yang lagi nyapu jalan -no flaws.

Tiba-tiba, 'Plokk..', Sebuah botol minum kecil jatuh -dijatuhkan oleh tangan seorang pria didepan gue- dia dengan santainya melenggang aja sama temennya menyusuri trotoar dan naik ke halte. Gue masih bengong. Dan hari indah gue, he ruined it.

Gue pun cuma matung, diem dengan sungut-sungut setan berkelebat di muka gue. Serioulsy coy, lo tu cuma butuh ngebuang sampah lo ditempat sampah yang even nggak sampe 5 meter dibelakang lo, woyy.. Lo juga jalan lurus-lurus aja nggak belak-belok, apa susahnya si nenteng sampah lo yang i bet beratnya nggak nyampe 200gr dan blarrr lo buang deh ke tempat sampah. Beres dehh! Lagi tempat sampah itu campuran kok. Lo nggak perlu repot-repot lagi mikir jenis sampah lo itu apa; kertas, kaleng, beracun tidak kah, buangnya di part yang mana, udah tinggal buang. Malah kalo sampah lo itu beracun gue suruh lo tenggak aja sekalian.

Gue mengernyit. Antara harus ngegaplok tu orang langsung atau gimana. Tapi gue berakhir dengan mungut tu botol dan ngebuang ke tempat sampah. Tempat sampah yang bahkan jaraknya nggak sampai 5 meter dibelakang dia! Garuk-garuk aspal nggak si lo?

Emang sesusah itu ya??
Kalopun nggak ada tempat sampah lo nggak bisa gitu simpen dulu sampahnya dikantong atau tas lo, atau lo tenteng kek bentaran. Itu nggak akan tiba-tiba ngebuat tulang pergelangan tangan lo geser atau patah nggak kok. Beneran.

Emang nggak ada rasa bersalah atau malu gitu ngelakuin itu? Nggak lah ma, kan cuma buang sampah. Iya, tapi dalam arti sembarangan, tidak pada tempatnya dan seenak jidat aja.

Pernah juga gue lagi jalan sama sodara gue dan dia ngebuang sampah di halte busway gitu. Gue langsung refleks ambil sampah yang dia buang dan gue dengan ketusnya bilang 'Jangan buang disini kali!' Terus dia dengan -sumpah mukanya tanpa rasa berdosa banget bilang- 'Kenapa? Kan disitu juga ada sampah, liat tuh.' Dia mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, yang emang halte itu agak kotor karena ada beberapa sampah juga. Tapi NGGAK GINI COOYYY ! Sumpah speechless demi speechless gue arungi disini.

Gue suka heran deh emang iya mereka tu suka ngeliat lingkungan sekitar mereka kotor, berantakan nggak jelas? Kalo lo aja nggak suka kenapa lo mesi mengimplementasikan di lingkunagn sekeliling lo? Karena balik lagi, ini tu public place coy, bukan lo aja yang make, bukan lo aja yang nampang dan jalan disono. Amit-amit aja ada yang kepleset gara-gara sampah lo terus dia mati. Masih lucu?

Kan ada petugas yang bersih-bersih, nanti juga dibersihin sama mereka. Lagi kemungkinan ada duit pajak gue dari susunan beton-beton ini. Ya at least lo ada tanggung jawab dong untuk memelihara kebersihan lingkungan lo? Kayaknya hal kaya gitu nggak perlu di declare dulu deh baru lo tau. Tanggung jawab semacam itu udah ada di diri kita, at least kita manusia lah. Coba deh lo menaati sesuatu yang memang baik didasarkan pada fact kalo lo itu manusia. Itu aja. Nggak usah susah-susah.

Seenggaknya ada perasaan seneng, lega kan kalo ngeliat sesuatu tu teratur, bersih, tertib.? Oke yang namanya manusia emang nggak selamanya lurus-lurus aja, bener-bener aja, taat-taat aja. Ada saat-saat kita itu menyimpang. Tapi nggak kaya gini, nggak dengan lo membuang sampah seenak jidat yang bikin orang lain empet juga ngeliatnya. Soalnya ini ruang publik. Kalo masih merupakan area privat lo si ya sebodo lo aja.  Mau jungkir balik depan kereta apaan tau juga seenak lo aja. Dan lo nggak bisa seenak lo di ruang publik kaya gitu. Dan emang lo nggak kasian sama petugas yang bersih-bersih itu? Baru juga disapuin lo udah asal buang aja. Tau nggak betapa pengennya gue merebut sapu lidi yang lagi dipake nyapu sama bapak-bapak itu untuk gue colokin ke muka lo! Huhh... inhale-exhale maaaa....

Dan tentang pembuangan sampah sembarangan kaya gini kan sebenernya udah ada undang-undangnya sendiri, terlebih di DKI Jakarta. Dan mereka bisa kena denda maksimal  Rp. 500.000 kalo buang sampah di sungai. Rp. 100.000 kalo buang sampah ditrotoar atau jalan. Yah, tapi seperti biasa lah, undang-undang yang udah dibuat, yang udah ngabis-ngabisin duit negara juga untuk pembuatannya, sekarang ujungnya nggak kepake. Kaya tong kosong nyariiiiiingg banget bunyinya.

Hal yang sama berlaku pada sitem antri. Nggak jarang gue masih menemui hal-hal kaya penyerobotan dalam antrian. Antrian tiket kek, kasir, busway, apalah dan itu sumpaahhh annoying banget. Even antri untuk tap out halte aja juga masih ada aja orang yang nyerobot kaya monyet. Seolah dia ngiranya orang dibelakangnya dia itu nggak punya mata, jadinya si doi asal nyerobot dan nyempil aja kaya apaan tau. Namanya ngantri emang menyebalkan, nggak ada juga yang suka kok memang. Jadi lo nggak perlu menambah rasa enek dan kesel orang yang lagi ngantri dengan serobotan lo itu. Kecuali lo mau diamuk!

2. Orang yang ngegoda-godain gue dijalan (atau dimanapun itu, intinya ngegodain nggak jelas!) yang nggak menjunjung gender equality.

Stop catcalling me. Am i look like your pet?
And stop whistles at me. I'M-NOT-A-DOG-!

Apakah memang sudah selayaknya begini, kodrat gue menjadi seorang perempuan?
Untuk dianggap sebagai makhluk yang valuenya lebih rendah dari lawan jenisnya? Yang hanya harus mengatakan 'Iya' untuk segala hal? Dan diperlakukan seenak jidat sama mereka?

For being told that there were things i couldn't be, because i am a girl.
For being told that i have to do this and i can't do that, because i am a girl.
For being told that i have to wear this and i can't wear that, because i am a girl.

Sekarang gue akan lebih ngomongin tentang street harassment, yang mana gue juga mengalaminya sendiri. Hal-hal kaya catcalling atau street harassment kaya gitu bukan sekali dua kali gue dapet. Dan kemungkinan semua cewek didunia ini pernah dan sering digituin.

Belom lama ini gue baca detail kasus dan presentase sexual harassment di Indonesia, my brain exploded. Gue nggak melebih-lebihkan, karena ternyata presentase datanya tinggi banget, terlebih untuk kasus harassment di ranah publik. Ini juga nih yang bikin gue jengkel banget.

Sering juga pas gue pulang kantor atau pergi kemana tau atau ngapain lah, pasti aja ada orang gila yang melakukan ini ke gue, melontarkan kata-kata inappropriate ke gue. Astaghfirullaahhh... kamprett... pengen banget gue sobek-sobek mulut tu orang tau nggak, pengen gue bunuh tu orang beneran!

Gue males kalau diajak keluar kemana tau dan ughh gue nggak tau gimana ngejelasinnya, karena gue tau diluar sana gue akan menemukan orang-orang menjijikan kaya gitu. GUE BENCI. Gue benci tindakan mereka. JIJIK. Apa mereka nggak tau kalau hal itu menjijikan? Kalau hal itu bikin orang muak pengen muntah? Eh kampret, lo tau nggak si itu menjijikan, Hah??!

Gue sangat-sangat sensi sama hal-hal kaya gini. Kaya kalo ada orang ngegoda-godain gue, entah siapapun itu, temen deket gue sekalipun, mau mereka bilang becanda kek atau apa. Gue-nggak-suka! Kalo lo bilang becanda, mendingan lo nyari lawakan lain yang bisa bikin gue ketawa dari pada bikin gue pengen melintir leher lo.

Belom lama ini juga pas gue balik kantor sama temen gue, dijalan ada segerombolan cowok catcalled kita dll. Lirikan tajem gue ternyata nggak bikin mereka mingkem. Saat gue mau nyamperin tu orang-orang brengsek nggak bernorma temen gue malah bilang 'Udah biarin aja lah, namanya juga cowok' F!? Gue disini keselnya mati-matian udah kaya pengen ngebunuh orang dan lo bilang apa?? Disitu gue tertegun. Speechless. Ini yang harusnya gue tonjok siapa si? Ini siapa yang gila si? Mereka itu baru aja nginjek-injek harga diri gue sama elo. Dan lo bilang apa? F off. Buat gue hal itu terdengar kaya 'Injek-injek aja harga diri gue, gue ikhlas kok.'

Dan enggak. Gue nggak bisa mengikhlaskan hal-hal kaya gitu. Jujur gue kecewa sama cewek yang justru malah ngomong kaya gitu disaat mendapat perlakuan yang sangat amat nggak sopan demikian. Don't you feel offended, angry enough? Don't you care? Don't you think that is too much? Ma, itu tu elonya aja yang berlebihan. Iyakah? Gue berlebihan? Pokoknya segala bentuk of unwelcome attention atau imposition of unwelcome sexual demands or creation of sexually offensive environments, bukan sesuatu yang bisa gue anggap santai kaya angin lalu.

Bayangin lo lagi jalan terus ada mobil melanin jalannya disamping lo, terus si kampret monyet bajingan itu membuka kaca mobil dan mengatakan hal inappropriate ughh brengsek banget. Nggak salah dong kalo gue tendang mobilnya? Atau salah karena harusnya gue tendang orangnya?  Juga gue pernah pas lagi sama temen gue, kita lagi mau nyebrang jalan dan tau-tau ada orang gila pakai baju batik dan dia punya name tag dan NIP kayaknya kalo nggak salah, ambil foto kita dari jarak yang lumayan dekat beberapa kali. Pas mau gue ringkus, dia udah ngabur persis monyet. Beneran gilaaa.. kegilaan macam apa sih kaya gitu. Udah jelas tu orang tu PNS dan kelakuannya sumpah kaya monyeeettt nggak mempresentasikan ke-PNS-an banget. Gilaa.. Ya Rabb pengen gue bunuh, tolong binasakanlah.. Kalo gue ketemu tu orang lagi pengen langsung gue banting-banting tu hp nya!

Apa harusnya gue merasa lempeng-lempeng aja dengan hal-hal kaya gitu?? Gue belum cukup gila untuk bersikap lempeng-lempeng aja disaat diperlakukan demikian.

Eh gue bilangin ya, bukan berarti karena lo cowok, terlebih rame-rame lo bisa semena-mena sama cewek. Lo tau seberapa pengen gue ngebunuh orang-orang kaya lo? Gue berHAK jalan dijalan itu dengan perasaan tenang aman dan nyaman tanpa perlu merasa terintimidasi dengan tatapan atau kelakuan-kelakuan setan lo. Jalan itu jalan publik coy, atau jalan lo? Jalan nenek lo? Ok, kalo itu emang punya lo gue mending nyari jalan lain, lewat neraka dari pada harus ketemu orang-orang bejat kaya kalian!

Lo itu nggak punya kuasa apa-apa, kalaupun lo punya, emang gue peduli? Gue bukan rakyat sipil kelas dua seperti apa yang wanita-wanita lain rasakan ratusan tahun lalu! Bangsat!

Ini bukan sesuatu yang bisa lo get used to it atau biarin seolah hal ini tu normal-normal aja. Enggak. Non verbal maupun verbal, tetep aja hal itu tuh sama. It's a a form of harassment. And you can't let something like this goes on and on like that's nothing. Gue juga meminta kesadaran elo-elo kaum pria, nggak usah bertindak kaya gitu. Lo kira keren, lo kira cakep? Yang ada pengen gue gantung untuk nambahin objek museum sebagai contoh dari bad influences. Dan kalo ada temen lo yang berbuat hal-hal kaya gitu, ngegodain cewek yang nggak dikenal dijalan, dalam bentuk gimanapun itu, lo tegur lah. Dan untuk cewek yang dengan mudahnya mengatakan 'udahlah biarin, namanya juga cowok' atau 'udahlah digituin doang juga' oh waow.., emang lo nunggu sampe lo diapain coy?? Gilaaaa, santai banget ya lo ngomong kaya gitu? Jangan membuat gue harus nyamain lo sama mereka-mereka lah.

Dan boys will be boys? I don't give a damn care about that. Jangan menjadikan kalimat itu sebagai alasan cowok untuk jadi brengsek dan nggak tau norma. Jangan jadikan kalimat itu sebagai alasan bahwa lo sebagai cewek nggak bisa membela diri dan menerima perlakuan-perlakuan inappropriate kaya gitu. Hanya karena gue cewek bukan berarti mereka bisa menggunakan gue sebagai objek asusila atau hal semacam itu. Hanya karena mereka cowok, bukan berarti value mereka lebih tinggi dari gue. Ok gue nggak bilang value siapa yang lebih tinggi disini.

Sayangnya nggak ada hukum yang bener-bener mengikat untuk sexual harassment secara verbal gini. Dan gue nggak bisa take it easy untuk hal kaya gini dan pernah saat gue udah kehilangan kesabaran, gue nyiramin kopi ke orang yang catcalled gue dijalan. Waktu itu gue balik kantor dan jalan yang gue lewatin emang relatif sepi. Tau-tau ada tiga orang cowok (orang?) yang catcalled gue.

Dijalan itu emang kadang ada spesies-spesies gila kaya gitu. Itu bukan sekali dua kali gue digituin. Siang bolong pun sama, mereka kaya nggak punya muka! Karena gue udah muntab dan jarak gue sama si bejat itu cukup dekat, serta merta gue lepas tutup coffee cup gue dan gue siramin ke dia. Jahat? Kalo menurut gue si kurang ya, karena sayangnya yang gue bawa kala itu adalah ice coffee. Gue berharapnya malah saat itu gue lagi nenteng hot coffee, hot coffee satu emberr yang airnya baru aja mendidih dan gue siramin semuka-muka tu orang ! Kayaknya kalo kaya gitu gue akan lebih puas. PU-AS! Setelah itu ya mereka diem. Dan setelah kejadian itu, gue nggak pernah digodain lagi saat ngelewatin jalan itu.

At least you need to take action, girls. Jangan merasa diri lo lebih lemah sehingga lo takut. Lo bisa nonjok mereka balik kok. What?? you have no ability to do that? Because the term that you are a girl? What kind of term, huh? Term yang mengatakan kalau cewek itu harusnya begini-begitu, huh?

We have the power to fight back! Cobalah lo lebih tegas dikit, cobalah untuk berani, jangan memilih untuk menjadi korban bodoh. Power yang gue omongin disini bukan hanya tentang fisik, tapi juga lewat peran lo dalam dunia kemahasiswaan atau kerja mungkin, lewat tulisan lo, lewat suara lo dalam seminar kek atau pemberdayaan hak-hak wanita dll, masih banyak banget cara lo untuk menyerukan tentang gender equality.

Mungkin akan ada orang yang bilang, 'makanya pakai jilbab supaya nggak digituin' Jadi salahnya di gue karena gue nggak pakai jilbab sehingga gue digituin? Dan apakah setelah gue pakai jilbab gue bener-bener nggak akan mendapat perlakuan kaya gitu lagi? Well i already have the answer, and the answer is NO. Gue pernah mengalami sendiri saat gue mengenakan jilbab dan i got the same fucked experiences like that. Jadi apa? Ha? Gue harus menggulung diri gue pakai sprei dulu kah baru gue nggak akan mendapatkan tindakan kaya gitu lagi dari mereka? HAH!??

Gue memang nggak pakai jilbab, tapi gue merasa pakaian yang gue pakai considered sebagai sopan kok. Gue rasa hal itu seharusnya cukup untuk membuat villains gila itu membiarkan gue jalan secara bebas, menutup mulut mereka dengan bacotan kurang ajarnya itu, nggak menatap gue kaya gitu dll. Dan nggak semua cewek didunia ini bisa pakai jilbab coy. Kalaupun ada cewek yang pakai rok mini kek, hot pants kek, atau baju yang ketat, baju yang gayanya gini-gitu, bukan berarti dia mau di catcalling, diliatin kaya gitu, di kata-katain dijalan, bukan berarti dia mau diperkosa! bajingan!! Alesan apa lagi si? Hah? Capek gue.

Apakah gue harus diem aja diperlakukan kaya gitu karena gue cewek? Dan persepsi lainnya tentang kodrat gue sebagai seorang cewek? Lo itu cewek lo diem aja, don't raise your voice. Lo itu cewek lo nggak bisa jadi ketua organisasi. Lo itu cewek, jangan keseringan pake baju item. Lo itu cewek, lo belajar masak deh. Lo itu.... kampret yang kebanyakan ngoceh dan asal ngelempar judgment ke orang! Jangan beri gue terlalu banyak line karena gue cewek. Jangan! Dan mungkin lo harus memberi diri lo beberapa line karena lo cowok. For this one, i pro feminism!

One thing is for sure here, i'm just asking for equality. And is that too much to ask?

3. Orang yang makan nggak diabisin.

Gue suka bingung dan gemes kalo ngeliat orang makan nggak diasbisin. Entah itu orang asing atau orang yang gue kenal makan depan gue. Emang udah kodratnya dia aja, dia nggak mengenal kemampuan dirinya sendiri atau gengsi dikira rakus kaya monyet?

Nyisain makanan nggak bikin lo tambah cakep enggak kok, beneran. Namanya aja makanan, ya lo makan lah ngapain lo sisa-sisain segala? Kalo ngerasa porsinya kebanyakan ya pesen aja setengah porsi atau share ke temen lo, atau lo takeaway kek. Apa valuenya coba?

Kita udah waste 13 million tons food per year coy.. nearly 300 kg of food per person per year! yang mana jumlah makanan yang terbuang itu bisa untuk memberi makan 28 juta penduduk Indonesia! Angka yang sama dengan angka kelaparan yang ada di negara kita ini. Konyol banget nggak si. Ini issue yang serius loh, jangan ada yang bilang 'ah gituan doang ge..' kecuali pengen gue cekokin pake racun. Ini baru permasalahan di Indonesia aja, belum di asia secara umum yang udah menyumbang seperempat food waste didunia.

Nggak tau juga udah seberapa kaya dan sejahtera mereka yang asal nggak ngabis-ngabisin makanan. Sementara mirisnya masih banyak kasus anak di Indonesia yang meregang nyawa karena kurang gizi. Kebayang nggak lo gimana strugglenya masyarakat Ethiopia mencari sebutir gandum/nasi untuk dimakan? Mungkin aja tanpa lo sadari 3-4 suap makanan yang nggak lo abisin bisa menyelamatkan satu nyawa disana. Nggak usah jauh-jauh lah disana, tapi disini juga.

Ada lagi orang yang cuma berniat ngisi feed instagram. Makanan difoto diambil angle paling cakep terus dimakan sesuap dua suap terus udah. Kalo seenggaknya makanannya ternyata nggak sesuai selera lo tapi masih bisa dimakan, ya makan aja lah atau takeaway bawa balik siapa tau ada yang mau makan. Kecuali kalo udah busuk dan nggak layak konsumsi, oke lo bisa buang.

Gue inget dulu kalo makan sama kakak cewek gue atau beberapa sodara/temen, mereka ngasih advice supaya gue nyisain makanan dipiring. But wait, kayaknya gue bayar deh untuk makanan ini. Untuk satu porsi makanan yang tersaji dipiring gue bayar sama tax & servicenya juga kok. Kenapa? Lagi juga gue nggak akan tiba-tiba nelen sumpitnya enggak kok. Dan begitulah mereka menyisakan beberapa suap nasi yang harusnya masuk mulut mereka malah berakhir di piring kaya apaan tau, yang menurut gue sayang. Gue nggak tau apakah ada etika atau adab semacam itu. Gue nggak tau apakah dalam table manner juga disebutkan supaya kita menyisakan beberapa suap makanan sebagai bentuk kesopanan atau kecakepan. Bodo amat. Kalopun ada dan menyangkut aqidah juga i don't give a F lah. Karena buat gue hal itu masih konyol. Konyol banget, nggak masuk dan nggak bisa diterima akal sehat dan logika. Enggak banget.

Dan food waste kaya gini juga mempengaruhi climate change. Limbah makanan yang terurai di landfill itu menghasilkan gas methana, gas rumah kaca yang seenggaknya 28 kali lebih kuat dari karbondioksida, itu juga penyumbang peningaktan suhu permukaan bumi.

Persoalan ini emang bukan dari faktor individu aja, tapi juga masuk dalam faktor industri. Tapi kalo dari kita at least bisa memperbaiki konsumsi kita terhadap makanan, kenapa enggak?

4. Orang yang menjadikan gue perokok pasif.

Gue gedeg banget. Geeedeg setengah mati kalo ada orang ngerokok disekeliling gue. Bukan ya, gue bukannya sok atau gimana, tapi dari dulu gue emang ENGGAK SUKA kalo ada orang ngerokok disekeliling gue. Ngeliat orang ngerokok aja udah enek banget, terlebih mereka yang dengan santainya ngerokok disamping gue sambil ngoceh ini itu, Ya Allah.. boleh nggak si gue gaplok detik itu juga?

Lagian kenapa si orang ngerokok? Dia jelas-jelas tau kan, hal-hal buruk yang akan terjadi ke dia kalau dia merokok, terlebih menjadi seorang pecandu untuk hal satu ini. Ugh sumpah pengen ngegaplok. Apa si sisi positifnya? Entah ada atau enggak ya, gue nggak peduli. Sayang-sayang tau nggak duitnya? Lo cuma beli sesuatu untuk lo hisap asepnya coy?? Lo hisap asepnya doang?? GILAAA... Lo pikir deh pake dengkul sekali-kali kalo otak lo udah capek. Lo menghisap asap dan membayar puluhan ribu atau mungkin ratusan ribu untuk rokok yang mahal? Sumpah sayang banget. Dan lagi asap yang lo hisap itu entahlah apa benefitnya buat diri lo, impact apa yang akan tubuh lo dapatkan atas kandungan si rokok itu, buat lingkungan di sekitar lo selain mengakibatkan ini itu yang nggak baik.

Juga kandungan yang terdapat didalamnya. Nikotin, arsenik, tar dan 4500 zat apalah lainnya yang gue nggak tau. Dari ketiga hal yang gue sebutin tadi aja udah berupa-rupa hal merugikan yang akan lo dapet, gimana dengan lainnya. Dan yang jadi pertanyaan gue adalah, nikotin? what kind of chemical substance is that? Zat adiktif kan? Tergolong nggak si sama zat adiktif yang itu, tapi kenapa masih boleh dan bisa dikonsumsi? Apakah karena batas nikotin yang terkandung dalam setiap batang rokok masih dalam kadar wajar? wajar?? wa?? aduh siapapun nih ya yang ngerti soal ini, tolong jelasin ke gue deh, sebelum gue ngegaplok diri gue sendiri.

Bungkus rokok adalah salah satu bungkus produk paling menjijikan buat gue. Gimana enggak? Liat aja tuh bungkus rokok lo. Liat !

Biasanya suatu produk akan dikemas dengan sangat baik, dengan tampilan yang cakep banget dan sangat menarik, yang merepresentasikan produk tersebut dengan versi terbaiknya. Yang akan membuat banyak konsumen tertarik untuk membeli produk tersebut. Entah dengan permainan warna yang colourful kek, yang kalem kek dengan design gambar yang trendy kek atau apalah itu. Nah bungkus rokok? Aaaa gue benci harus mendeskripsikannya disini, karena mau nggak mau bayangan bungkus rokok itu berkelebat di otak gue, ughh ! Ya pokoknya liat aja deh bungkus rokok lo. Gambar macem apa yang terpampang disana? Cakep tu gambar? Indah ya? Indah, banget?? Itu fascinating ya? Mengalihkan dunia lo ya saking indahnya?

Tulisan apa juga yang tertera dibungkus rokok lo itu? Biasanya sebuah produk juga akan menggunakan slogan yang merepresentasikan produk dengan sangat baik dan tepat. Gimana dengan produk rokok lo? Benefit apa yang lo dapet?? Nutrisi apa aja yang bisa lo dapet dan akan masuk ke tubuh lo dengan sebatang rokok? Hal-hal macem apa yang merepresentasikan produk yang lo konsumsi itu? Lo mau bunuh diri ya? Gue tau hidup itu susah dan berat, tapi jangan sehelpless itu lah lo bunuh diri dengan cara merokok. Dari tulisan dibungkusnya aja udah jelas, seolah bilang 'mau mati? konsumsi gue ya.', matinya dengan cara yang sadis pula. Lo tu membeli produk yang bahkan produsennya tu seolah nggak menyarankan elo untuk mengkonsumsi itu juga. Karena mudhorotnya tu banyak banget. Mudhorot semua malah yang lo dapet. Seolah lo itu disuruh masuk bunker yang akan meledak dalam kurun waktu beberapa lama dan lo masuk aja, mengiyakan aja dan bayar pula. Bayar loh! Lo mau mati dengan cara yang sengsara dan lo harus bayar untuk kematian lo itu. Belum kalo lo harus bayar untuk biaya pemakaman atau kremasinya. Aduh, mati itu mahal ya.. Pusing gue.

Dalam satu batang rokok aja terkandung lebih dari beribu-ribu bahan kimia. Boomm! Meledak nggak si otak lo? Oke, gue tau lo berniat ngebunuh diri lo sendiri. Makanya itu, satu hal yang perlu lo catet ya, yang perlu lo insert baik-baik ke otak lo; kalo elo emang mau mau mati, mau ngebunuh diri lo sendiri, mati aja sono lo sendiri coy, nggak usah ajak-ajak gue! Don't f'ing invite me to your f'ing funeral! Jangan jadikan gue perokok pasif ! Asep rokok lo itu kemana-mana, gue selain nahan asep lo juga nahan emosi sebelum gue sulutin kembang api juga tuh ke mulut lo. Gue jadi korban lho disini! Apaan si lo ma, lebay banget -DIEM LO! Sumpah orang-orang kaya gini lebih baik diem dari pada gue jorokin dari tangga.

Mungkin juga akan ada yang bilang "itu emisi gas karbondioksida dari kendaraan juga lo hirup tiap hari kali, ini rokok doang". Ughhh iya memang! tapi tetep aja coy gue nggak suka. Dan iya kali lo kira gue dengan senang hati menghirup karbondioksida yang berseliweran di udara tanpa ngumpet-ngumpet ngatain orang dalam hati?? Gini ya, gue nggak bisa melarang orang untuk nggak merokok, cuma gue minta jangan jadiin gue perokok pasif.

Dulu gue sempet pengen beli mural atau sejenis poster gitu tentang slogan dan bahaya-bahaya merokok yang cukup gede dan udah di frame, terus gue pajang di ruang tamu. Biar kalo ada orang namu kerumah gue, nggak ada yang tau-tau ngerokok dan at least kalo si doi tau-tau mau ngerokok dia ngerasa minder dengan mural tersebut. Tapi nggak jadi, karena kayaknya kakak gue nggak akan ngijinin. Karena gimanapun juga kakak gue juga merokok. Walau gitu kakak gue nggak biasa ngerokok depan gue gitu si dan ayah gue juga nggak merokok. Dulu ayah gue merokok, tapi karena beliau mengidap asma, maka sudah sedari gue kecil juga beliau berhenti merokok.

Dan gini ya, supaya elo nggak merugikan orang lain kalo ngerokok, gue saranin nih ya lo ketempatnya Sandy Cheeks dulu di Bikini Bottom, terus lo pinjem deh tu air helmetnya dia, terus lo ngerokok tuh sepuas jidat lo dari subuh ampe subuh lagi kek, bodo amat. Yang penting asap dari hasil rokok yang lo konsumsi itu elo aja yang menghirup, ya. Nggak tau juga si apakah rokok lo itu akan work or not inside that air helmet. Yang penting ya itu, cari solusi lain supaya lo nggak menjadikan gue atau orang-orang disekeliling lo sebagai korban habit lo itu, OKE??

Dan gue paling sebel sama orang yang sengaja banget meniupkan asap rokok ke muka gue. Ughhhh ! Tolong jangan buat gue berakhir dengan melakukan tindakan kriminal ke elo kamprett ! Aroma rokoknya tu kemana-mana! And i hate it so bad ! Sumpah, jangan lagi! Pastiin asep rokok lo nggak mengarah ke arah gue jamilah!

Juga! Kalo lo ngerokok, bisa nggak si lo konsumsi aja batang rokok lo itu? Lo kunyah deh, lo telen-telen. Supaya lo nggak asal buang dijalan, diemperan, dimanapuuunnnn. Sumpah ini juga gila banget bikin emosi. Dan gue pernah menyaksikan temen gue yang ngerokok terus ngebuang puntung rokoknya dia gitu aja ditempat dia ngerokok pula. Serta merta gue gaplok lah bahunya, gue cuma refleks aja. Dan setelah itu gue ngomel ke dia.
Gue benci banget sama orang orang yang asal aja ngebuang bekas rokoknya itu seenak jidat dia sendiri (kembali lagi ke poin 1), bener-bener sembarangan dikanan-kirinya dia, seolah dia makhluk tuhan paling suci yang pengen banget gue gaplok dan bisa masuk surga seenak dia aja tanpa filter! Pengen gue unyeli-unyelin tuh puntung rokok ke mulutnya dia, gue suruh dia kunyah jadi sealus-alusnya. Gue suruh dia telen, setelen-telennya! Sumpah ma, lo sadis banget. Bodo amat!

Orang-orang kaya gini tu toxic yang bener-bener toxic tau nggak si? Setelah mereka ngerokok nih ya, menyebar-nyebar asap yang mengandung beribu-ribu zat kimia berbahaya kepada orang lain, kepada gue, yang akan menyebabkan kemungkinan penyakit-penyakit ke tubuh orang lain(ini kejahatan pertama), yang membuat aroma pakaian orang lain nggak sedap(ini kejahatan ke-dua) yang seharusnya mereka nikmati sendiri, dan akhirnya mereka membuang puntung rokoknya tanpa rasa berdosa sedikitpun kemana tau nggak ditempat sampah(ini kejahatan ke-tiga) yang menimbulkan kerjaan ke orang lain (ini kejahatan ke-empat). Sumpah Ya Allah, boleh nggak si gue gampar satuuu aja pelaku yang kaya gini. Kalo ngeliat puntung rokok berserakan dijalan, bawaan gue tu udah nggak santai banget, pengen banget gue jejelin tuh puntung rokok ke mulut orang-orang gila itu. Beneran kampret banget. Oh maaaaa...

Udah ma, udah! Udah deh, lo jangan nulis lagi. Udah setop! Dari pada keyboardnya berantakan kemana-mana. STOP MA, STOP !!!

Oke, oke. gue nyerah. Udahan. Gue masih sayang sama keyboard gue. Ok gue perlu waktu untuk calm my ass down. Bye !

Being an Idealistic Alien

𛲣September 30th, 2018



"...you're weird."

Gue udah nggak bisa ngitung seberapa sering orang lain melontarkan kata itu ke gue.
Yang gue tau, sering.
Gue juga nggak tau sejak kapan keterbiasaan gue menerima perkataan tersebut berubah jadi ke-tidaksuka-an terus balik lagi ke biasa dan nggak suka.

Saat lo dianggap beda, saat lo dianggap aneh, saat lo dianggap melenceng dari normal. Menjadikan lo merasa berada di dimensi lain. Dimensi yang lo kenal dengan baik dan lo merasa nyaman. Tapi tiba-tiba dimensi itu menjadi pertanyaan buat lo dan membuat lo merasa asing bahkan merasa perlu melarikan diri. Tapi tanpa lo sadari kewarasan itu masih disana, dan nyeret lo balik untuk stay. Karena dimensi itu bukan tempat dimana oppositenya waras disebut.

Kadang gue merasa kalau gue adalah alien yang terdampar dibumi. Begitu banyak hal yang menurut gue asing dan aneh. Begitu banyak manusia yang gue nggak ngerti. Begitu banyak rule dan kebijakan-kebijakan yang asing. Too much crowd, too much hate, too much war.. too much negativity. Mungkin dulu gue berasal dari Pluto, terus Tuhan menghukum gue atas kesalahan yang gue nggak tau apa dan mengirim gue ke bumi sebagai bentuk hukumannya -ya ini fix ngelantur.

Ngomongin Pluto, gue juga berempati sama dia. Dimana untuk menjadi planet aja dia harus masuk syarat-syarat spesifik. Dimana awalnya orang-orang consider dia sebagai sebuah planet -entah awalnya Pluto suka atau enggak dengan hal itu. Lalu out of nowhere dia di depak dari jajaran tata surya. Orang berubah pikiran dengan riset-riset dan pertimbangan mereka (untuk dunia ilmu pengetahuan ini penting sih, gue cuma lagi ngedrama aja). Dia yang walaupun tetap memiliki jalur orbitnya sendiri, tapi dianggap beda sama orang karena jalur orbitnya nggak sama dengan jalur planet lain. Maka IAU declared kalau dia bukan exactly sebuah planet beneran. Dia di cap berbeda, dia dikucilkan, dihilangkan dari bagian itu dan disebut sebagai dwarf planet. Entah kesalahan apa yang Pluto buat. Or yeah they had no idea if Pluto was not one of them in the first place. Ya, mungkin Pluto juga bertanya-tanya, Why did you judged me, considered me as the part of that kind of planet in the first place? Because you know what, i'm not. Entah apakah ada yang merasa kehilangan juga atas kepergian Pluto dari jajaran tersebut, mungkin. Untungnya si Pluto ini nggak punya hati, nggak punya perasaan selayaknya kita manusia. Jadi kemungkinan dia nggak terisak-isak di luar sana sendirian. Atau malah dia enjoy aja dan menikmati kebebasannya? Seperti yang memes diluar sana bilang kalo Pluto don't give a fuck? Who knows.


So my dear Pluto, i wish you the greatest joy of life, wish your everyday to be filled with lots of love -from whoever they are. And it's ok to live your own life. Life is hard, but i know you can go through it.

Dulu, saat gue dibilang aneh sama orang (dibilang aneh sama orang yang nggak ngerti keanehan gue maksudnya) maka gue akan ignore aja. Menganggapnya kaya angin lalu tanpa bahkan merasa perlu sakit hati atau gimana. Seiring berjalannya waktu, gue mulai... muak. Mulai merasa bahwa mata gue berpindah lebih menyudut saat mendengar hal itu, lalu temperature udara di hati gue mulai suam-suam kuku. Makin kesini bukannya diri gue semakin settled dan terbiasa atau semakin bisa beradaptasi dengan hal itu, gue malah semakin kesel dan nggak tahan pengen rip off their head. Sekarang ini gue sangat sensitif. Gue seolah nggak bisa lagi menganggap santai hal itu. Suam-suam kuku tadi udah mendidih dan otak gue udah ngebul. Ekspresi mata gue udah nggak tertolong dan pertahanan terakhir mulut gue udah runtuh. It's-not-even-feel-slightly-funny-at-all.

Saat gue diajak makan bareng dan gue lebih memilih makan keluar sendiri, atau nolak karena gue masih kenyang -seriously saat itu gue masih kenyang. Atau saat gue diajakin hangout kemana dan gue bilang, thanks but no. Untuk hangout pun gue akan cenderung memilih mau hangout sama siapa -maybe i'm picky here- tapi lebih baik dari pada gue berujung mati bosen hangout sama orang yang salah. Dan gue akan lebih memilih hangout sama orang yang bisa gue ajak ke toko buku tanpa kebanyakan ngeluh, beberapa kali ke perpustakaan nasional atau museum, ke taman atau tempat hiburan yang agak sepi dan ada manfaatnya gitu.

Dan itu bukan karena gue benci atau nggak suka sama orang-orang disekitar gue. It just me want to be alone with myself, i mean i need my own space bro. Gue nggak bisa kaya kalian yang klayangan kemana tau, ngumpul sana-sini dan asik-asik ria, bahas skandal seleb atau ngomongin make up. Gue nggak bisa. Gue nggak kaya gitu. Dan tolong jangan consider gue sebagai orang yang aneh. Terlalu aneh kah? Well dunia ini luas, ilmuan bahkan sering discover sesuatu yang asing dan aneh lalu di publikasi dan kalian nerima-nerima aja, why with this kind of personality then?

I just need my own space. And this is the way i think, this is how i express myself, etc.

I can't talk to you about how you apply your eyeliner, about your dream last night, bunch of your bags collection, how do you like your eggs cooked in the morning, which one is the best bakso at the area, which saloon do you prefer, or how you cooked your ayam rica-rica. I don't. And is that the reason i can't get along with people?? Apakah nggak ada orang yang ngomongin hal lain selain hal-hal kaya gitu? Apakah gue harus feeling excited tentang hal-hal yang dibilang common kaya gitu untuk bisa nyambung sama orang? untuk dianggap normal? untuk dianggap sebagai manusia?

Well, i chose to be an alien then. Where you can just leave me alone on my own universe.

Sangat sulit buat gue menemukan orang-orang yang bisa mengerti gue. Mengerti gue dalam arti bener-bener mengerti. Jalan pikiran gue, pandangan gue tentang sesuatu, suara yang gue keluarkan dan juga perasaan gue. Gue punya segelintir orang yang masuk dalam list itu. Dan buat gue pribadi mereka penting. Karena untuk atom ini sendiri orang-orang kaya mereka itu jarang. Sebegitu jarangnya menemukan seseorang yang bisa nyambung, yang bisa get along sama pemikiran dan humor ini. Even saat orang lain merasa gue nyambung sama mereka, but -not even in the surface- gue enggak. Ngomongin tentang the trivial things they talked for hours. That's just me trying, memaksa diri gue mati-matian untuk bersikap normal, maksud gue untuk dianggap normal. Yang kalo dari kaca mata gue sendiri itu enggak normal. Ok kalo lo ngerasa pusing bacanya, ambil panadol.

Gue juga nggak biasa membuka diri gue ke orang lain. Presentase keterbukaan gue sama orang emang kecil banget. Gue sangat hati-hati tentang hal satu ini. Karena gue merasa nggak semua orang bisa dipercaya, and most of them are not. Dan melemparkan kepercayaan kita gitu aja ke orang lain itu sayang banget. Contohnya saat gue mengungkapkan diri gue ke orang lain yang belum bener-bener gue percaya, even cuma seklumit kulit ari, gue merasa perlu menarik dan menelan perkataan gue kembali bulat-bulat. Gue berharap waktu berputar ke detik dimana lidah gue ini akan mengatakan hal itu dan gue bisa menghentikan diri gue disana. Gue merasa sebagai orang bego yang telah membocorkan rahasia negara dan akan membuat negara itu runtuh dan hancur. Padahal mungkin kenyataannya nggak gitu. Mungkin obrolan ringan kaya gitu sebenarnya umum aja. Tapi gue terlalu reserved. Itulah kenapa gue nggak membuka diri ke orang. Nggak terbiasa curhat-curhatan ke orang, kecuali sama satu dua orang yang emang gue percaya dan bisa mengerti omongan gue. Lagi nggak setiap orang juga peduli kan sama urusan kita?

Karena pribadi gue yang reserved ini gue sering dapet persepsi yang menurut gue salah dari orang lain. Gue sering dikira sombong karena gue nggak banyak ngomong -terutama sama orang yang baru kenal gue. Gue sering dikira judes, karena pandangan kosong gue ternyata terlihat kaya mau nerkam orang. Itu juga sebenernya membuat gue kesel. Maksudnya gue sama sekali nggak punya intention jelek apapun. Tapi penilaian mereka ke gue udah gitu-gitu aja. Mungkin i'm the dullest person you'll ever met in your life. Karena hal ini juga kalimat kaya 'Sodara lo nggak asik banget si' atau 'Temen lo judes banget tau' sering gue denger. Dan well yeah..

Tapi kadang memang ada saat-saat dimana gue pengen ditinggal sendiri. Nggak pengen ngomong sama siapapun dan tanpa gue sadari ekspresi wajah gue terlihat sangat tidak bersahabat. Jadi advice buat orang-orang saat ngeliat gue kaya gini atau kalo mereka bisa ngerasain vibe gue yang nggak enak, just don't get close to me. Don't even say hi to me, just go and leave me alone. Because i have this kind of witch inside me and i don't want you to get hurt by her, whether her behaviour or her words. Just please stay away and mind your own business. I will really really appreciate it. Thanks.

Selama ini gue hidup didunia ini, inhale udara yang tercipta dari fotosintesis tumbuhan yang juga hidup di bumi ini, membangun hubungan, memulai percakapan dan melakukan interaksi lain antar manusia, gue masih nggak bisa mengerti mereka. Seolah gue tu minyak dan mereka air. Mau di shake segimanapun juga i can't blend well with them. I will always be this kind of part.

Dan dunia ini adalah tempat yang menakutkan tau nggak. Gue nggak tau bagaimana dengan dunia di Pluto. Tapi yang gue tau disini memang menakutkan. Saat gue buka website BBC pagi pagi buta dan yang gue lihat adalah gambar anak kecil berlumuran darah dengan keadaan lingkungan sekeliling dia berasap and i could felt the chaos there. Yang gue lihat adalah perlakuan semena mena manusia ke manusia lainnya, pelecehan terhadap kaum wanita atau pencemaran lingkungan yang akut hasil dari campur tangan si manusia juga. Dan juga manusia yang menjudge manusia lain seenak jidat. Those callous human.. Mereka yang nggak tau tempat, mereka yang rasanya nggak berbelas kasih banget, yang nggak punya empati satu sama lain. Yang menjatuhkan, yang suka melihat manusia lain kesusahan.

Gue adalah seseorang yang berpikiran kalau manusia nggak sepatutnya menjudge manusia lain berdasar appearance yang mereka miliki, uang atau materi yang mereka punya, jabatan mereka, keren atau nggaknya mereka dengan hal-hal tersebut. Menurut gue itu nggak sepantasnya dilakukan. Nggak sepantasnya dipakai sebagai tolak ukur.

Why don't we just forget the look? Why don't we just see through the soul? Why don't we??

Iya, gue tau, gue kedengarannya naif banget berpikiran kaya gini. Dan mungkin orang lain akan bilang 'Itu mah elo nya aja ma yang lebih concern ke hal hal kaya gitu', mungkin. Gue juga nggak tau. Tapi tetep, semua itu membuat gue miris. Membuat gue bergidik dan membuat gue benci.

Iya, gue benci. Lo tau kan ada begitu banyak organisasi dan departemen pemerintahan yang menyerukan kedamaian. Ada begitu banyak poster yang menggaungkan persatuan, kesetaraan dan kemanusiaan dimana-mana! Ada trilliunan subsidi yang dicanangkan untuk tindakan kemanusiaan itu! Bukan hanya dari satu-dua negara, tapi ba-nyak! Ngenesnya buat gue adalah mereka bahkan nggak bisa menghentikan kechaosan ini. Even organisasi yang erat kaitannya dengan perdamaian (gue nggak mau sebut merk), yang mengurus kasus ini-itu dari jaman kapan tau. Tapi masih ada begitu banyak kasus yang belum bisa teratasi, malah-malah semakin menjadi dan... you guys know. Gue dulu sempet pengen banget masuk organisasi perdamaian ini, dengan stigma kalau gue mendirikan tonggak perdamaian coy, tapi melihat situasinya sekarang, ego gue mengatakan kekecewaan dan.. idk how to explain it.

Dan lebih ngenesnya lagi ada begitu banyak pihak yang nggak bener-bener into it. Iya dia bersuara, mereka bersuara, tapi nggak sepenuhnya. Karena mereka berpikir mereka harus tetap melindungi diri, mereka nggak bisa terjun selepas-lepasnya karena mereka nggak sepenuhnya bebas. Ada hal-hal yang menurut mereka menyandung dan mereka nggak mau terseret ke lubang hitam. Mereka ingin tetap aman. Ingin tetap aman dari si BigBadLead. BigBadLead yang menurut mereka mempunyai segalanya. Dan gue dalam hati sering bertanya, kalo si BigBadLead ini memiliki segalanya, kenapa dia nggak menggunakan hal itu sebagai jalan untuk menciptakan perdamaian? Kenapa dia hanya mendukung sebelah pihak dan menyerukan kebenaran atas namanya, bahkan memberikan berupa-rupa subsidi pada rival tersebut yang membuat dunia ini semakin chaos. Why BigBadLead? Why? Ini yang membuat gue miris.

Gue yang bisa tertidur dengan nyaman dan nyenyaknya dibelahan bumi selatan ini, sementara pada saat yang sama saudara-saudara gue, atau katakanlah manusia-manusia lain sedang menghadapi perang, sedang was-was akan kemungkinan bom yang tau-tau nyasar ke pemukiman mereka. Mereka yang lagi struggling sama kelaparan karena nggak ada sumber makanan, sementara keluarga pihak pemerintahan berfoya-foya dengan duit miliaran negara! Petinggi negara yang sibuk import ini-itu, bahan makanan terbaik, wine terbaik, pakaian terbaik just for their fucking assess! Sementara yang lain fighting with hunger but some of them starving their people to pay for nuclear weapons. They attached nuclear above the welfare of their people. What a tragic story.. Oh God, take me to mars, please.. or Pluto might be better..

Dulu buat gue perang itu cuma ada di film, cuma karangan fiksi mengerikan yang gue liat dilayar kaca dan itu nggak nyata, nggak sepatutnya nyata. Tapi setelah gue gede gue tercengang dengan kenyataan kalau hal itu beneran nyata dan ada. Perang yang dipicu oleh keegoisan beberapa kelompok orang dewasa. Orang dewasa yang buat gue nggak punya otak. Mereka yang mengutamakan nuklir diatas kesejahteraan rakyatnya. Dan yang bikin jengkel lagi korban perang ini bukan hanya dari kalangan dewasa tapi juga anak-anak. Anak kecil yang literally they have no idea about what's happening in their world, tapi tau-tau mereka harus ngerasain reruntuhan bangunan menimbun badan mereka, tau-tau mereka harus ngerasain peluru bersarang di bagian tubuh mereka, mereka harus ngerasain gimana kehilangan orang yang mereka sayang didepan mata mereka! Mereka harus ngeliat berbagai kekerasan dan darah and they still have no idea what kind of shit is happening! Ngeliat wajah-wajah pilu itu gue merasa tercekik. Merasa bodoh bego dan lemah, cause i can't do anything, at all. This kind of weirdo alien can't do anything for you, so sorry..!

Kalau orang-orang dewasa itu yang memulai dan menciptakan perang, kenapa nggak mereka-merekanya aja yang mati? Kenapa nggak mereka aja yang ngerasain sakit dan luka? Kenapa anak-anak kecil itu juga yang harus menanggung luka dan sakit? Kenapa harus nyawa-nyawa mereka yang melayang?

Kenapa si manusia suka banget menciptakan perang? Why are you so cruel human? Why are you so cruel, world? Why??

This is not how things in this world should work, right? So why?
Why can't we just live in peace? Why? Why world? Please tell me why..

There are so many why. And when i think this way, people will judge me like 'What? What are you thinking of girl? Why are you so weird?' And i will end up like, Ok no one understands. Bye.

Literally parahnya gue adalah seperti ini ;
Gue pengen hidup di Pluto dan gue nggak mau ada astronot yang mendaratkan roket dan melakukan penelitian disana, karena itu akan sangat amat mengusik gue. Biarin gue menikmati kesendirian gue in outer space. Hah, rasanya damai banget. And let me looking back in time, looking the past-out into space. because when we're looking into space, that's the same as we're looking back in time (Ok, just to make it quite realistic guys, we do see light that has travelled enormous distances but we do not see the "past" -supaya bacaan gue terlihat lebih nyata aja, nggak kebanyakan fiksi, hal ini mengingatkan gue sama Mr. Hawking.) Because the light we are seeing from those stars has taken years to reach our eyes, even saat kita ngeliat si Proxima Centauri. Let me feels to be an approximately atom that contains with another atoms. Dan gue berharap saat itu dan disitu gue nggak dapat kunjungan dari alien lain karena gue akan merasa terganggu. So please stay away.

Crazy, right?
Saat gue hidupnya di bumi, literally bukan didaerah pedalaman yang sepi, bukan juga dengan kehidupan primitif yang serba terbatas. Dan gue berharap mempunyai kehidupan sesepi Pluto. Yang bahkan nggak dianggap -sejak belasan tahun lalu. Lagi pula siapa sih ma, yang mau menjadi bagian yang nggak dianggap? Pluto pun enggak ma. Dia pun, kalau bisa menyerukan aspirasinya dia juga kemungkinan nggak mau menjadi bagian yang nggak dianggap dan dibuang. So what's wrong with you?

Ya. What's wrong with me?
Mungkin gue hanya belum menemukan cara yang tepat untuk fit di bumi ini. Belum punya sesuatu yang tepat untuk membuat gue fleksibel dan nyaman dimanapun itu. Mungkin yang gue perlu adalah menunggu dan belajar untuk mengerti. Bukan hanya berharap untuk dimengerti oleh semesta ini. Sampai gue merasa baik-baik saja. Dengan ekosistem yang mau nggak mau, dan nggak bisa juga gue hindari. I'm such a weirdo, and ya i do still exist.

Mungkin nggak semua orang ngerti gimana capeknya struggling sama hal-hal kaya gini. Mungkin sebagian orang beranggapan ini lucu, kaya 'Hah, lo hidup aja susah banget si, tinggal go with the flow aja kali.' Iya. Tapi hal-hal dalam lingkup diri gue berbeda. I don't exactly know what it is, but it's hard and.. i hate it.

Masih gue liat-liat lagi gimana cara manusia-manusia itu berpikir. Apakah cara berpikir seperti itu yang membuat diri mereka menjadi manusia, disebut manusia? Keserakahan, keiri-dengkian, ketidak mengertian. Oh my alien soul can't resist it.

You see that? Di tengah-tengah dunia yang penuh kekacauan ini, seidealis itulah gue. Dan gue masih nggak tau gimana caranya beradaptasi disini. Entah apakah gue akan mati dengan perlahan kalau memaksakan diri gue beradaptasi. Tapi kemungkinan mati dengan cara yang sama juga akan gue temui kalau gue nggak beradaptasi. Karena terus merasa asing dan aneh sama semua ini dan gue nggak mau mati perlahan, gue harap Tuhan membawa gue ke planet dimana gue berasal. Entah Pluto atau dimanapun itu.


...I'm weird. I'm a weirdo. I don't fit in. And i don't wanna fit in.
-Jughead Jones.


What did You Just..

𛲣September 26th, 2018



I'm a very private person.
I belong deeply to myself.
I don't usually open up my page to everyone.
I won't let them, someone out of my credibility to touch it.
I have my own limits about it.
And you think i'm gonna show you the way i am?
I know myself pretty well, i'm a sarcastic person.
Ya, you're right about me as a mean girl, annoying, weird or anything.
You only know a part of me.
That non of it even call as a secret.
You said you know me?
Think again.

And even if you read this one, do you have any idea about it? Do you??
Sorry for my impoliteness.
But i showed you one of my layers -Rude.
You got it?

Dieng Culture Festival 2018

𛲣August 7th, 2018
Lagi pengen ngomongin kampung halaman gue, Wonosobo. Lebih spesifiknya sih mau ngomongin Dieng. Akhir akhir ini kabarnya -dan dari berita yang ada, suhu di Dieng itu lagi dingin banget. Gue mau menghiperbolakan dinginnya, tapi nggak ngerasain langsung jadi kaya kurang afdhol aja. Kalo dari yang gue baca dan informasi yang gue dapet, suhu paling anjlok di Dieng itu sekitaran -4 sampai -5 derajat celcius. Ehm, itu dingin banget sih menurut gue. Dedaunan, rumput, tanah dan lahan pertanian terlapis sama es. Rerumputan jadi silver, pemandangan jadi kaya di dunia fiksi Narnia yang series pertama, pas kakaknya Lucy, si Edmund keluar dari lemari yang dia masuki dan terjerembab ke salju (nggak gitu-gitu juga sih) ditambah lagi kabutnya jadi tambah tebal. Secara di Dieng emang kabutan semua. Tapi fenomena bercuaca dingin ini memang sering menyambut saat musim kemarau tiba.

Berdekatan dengan fenomena ini akan diadakan Dieng Culture Festival (yang mana sudah diadakan pada tanggal 3-5 agustus kemarin). DCF tahun ini adalah penyelenggaraannya yang ke -9. Iri banget sama temen-temen yang bisa menghadiri acara tersebut. Gimana nggak iri, merasakan semaraknya Dieng Culture Festival diketinggian lebih dari 2000 mdpl, di suhu yang sedingin itu dengan hiburan musik jazz dan disuguhkan acara kebudayaan yang Jawa banget. Dengan begitu banyaknya antusiasme dari pengunjung, dan yang pasti penerbangan ribuan lampion di ketinggian dataran Dieng. Ca-kep ba-nget. Bisa lo bayangin nggak cahaya-cahaya dari lampion itu menembus kabut, gue jadi inget film Tangled pas Rapunzel sama Flynn Rider lagi nyanyi di perahu kayu kecil di danau terus ada ribuan lampion yang diterbangkan dari kastil sebrang dan beberapa lampion terbang menuju ke arah danau, menembus kabut. Almost like that. Sambil menerbangkan lampion wisatawan menyenandungkan lagu Indonesia Pusaka juga. Semakin meriah.


Aaa jadi pengen kesana gue, too late girrlll.
Oke menyudahi diri gue yang meratap-ratap ria gue mau sedikit memberi penjelasan tentang Dieng Culture Festival ini. Biar kalo ada yang tertarik dan mau kesana seenggaknya udah rada-rada ngerti tentang apa tujuan dan isi dari festival tersebut. karena gue yakin banyak yang belum tau hal-hal itu, termasuk kita-kita juga yang orang sononya asli.
Oke, so, mulai dari mana ya..

Jadi awal tujuan diselenggarakannnya Dieng Culture Festival ini, yang mana pada awalnya dinamakan Pekan Budaya Dieng, adalah untuk meningkatkan pemberdayaan ekonomi masyarakat Dieng. Event ini diselenggarakan setiap tahun, awal penyelenggaraan pada tahun 2010. Dan sepertinya bisa dibilang salah satu upaya masyarakat/pemerintah dalam melakukan perlindungan dan pemanfaatan budaya juga sih. Dari penyelenggaraaan event DCF itu eksistensi budaya bagi daerah Diengnya sendiri akan terjaga. Zaman sekarang kalau kebudayaan tradisional nggak dijaga, nggak dilestarikan, ujung-ujungnya kepunahan menjemput. Dan alasan kenapa event ini juga menyajikan jazz music show, mungkin karena anak muda kalau hanya menikmati pertunjukan-pertunjukan budaya, ketertarikan mereka mungkin nggak akan besar-besar amat, jadi untuk mengimbanginya di mixlah sama pertunjukkan jazz itu.

Pemanfaatan budaya ini juga dimaksudkan untuk memperluas industri pariwisata Dieng. dengan adanya DCF event sendiri akan banyak menarik perhatian wisatawan, baik wisatan domestik ataupun mancanegara. Dengan begitu pendapatan pariwisata Dieng pastinya akan meningkat. Hal itu bukan hanya memberdayakan kebudayaan Dieng atau kebudayaan Jawa Tengah pada umumnya tapi juga memberdayakan ekonomi masyarakat setempat. Banyak karya-karya handmade masyarakat termasuk jenis-jenis makanan khas Dieng sendiri yang bisa diperjual belikan. Nah, semakin banyak orang yang mengetahui karya atau makanan khas Dieng, kemungkinan besar penjualannya akan bertambah, bukan hanya di hari-hari festival berlangsung tapi juga terlepas dari festival itu diadakan. Kebayang dong gimana hal tersebut bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat Dieng pada umumya? Sorry gue bukan kloningan anak pariwisata dan ekonomi, jadi conclusion gue mungkin nggak ngena-ngena amat.

Disini gue akan menjelaskan the most awaited momennya aja. Siapa juga yang nggak mencari-cari si the most awaited moment ini ?
So rangkaian dari kegiatan ini dibagi selama tiga hari. Puncak acara hari pertama DCF 2018 ini yaitu pertunjukan musik Jazz yang sudah gue sebutkan sebelumnya, bertajuk Senandung Negeri di Atas Awan, representasi musik jazz sama Dataran Tinggi Dieng, karena daerah itu juga disebut sebagai negeri diatas awan, soalnya bukan hanya karena ketinggiannya tapi juga karena dia selalu terselimut kabut. Alunan musik jazz seolah serasi banget sama suasana DCF.

Hari kedua, yaitu pada tanggal 4 agustus 2018 banyak banget pertunjukan budaya digelar. Dan puncaknya adalah festival lampion. Ya, kaya most of the most awaited momentnya menurut gue. Ribuan lampion diterbangkan oleh wisatawan yang datang di pelataran Candi Arjuna, ditemani senandung lagu nasional -Indonesia Pusaka, riuh gemuruh suara dari wisatawan membuat dingin jadi lebih menyentuh, ye elah kaya disana aja lo! Seketika pemandangan langit Dieng bertabur cahaya lampion-lampion nan cantik. Lampion-lampion yang berisi doa dan pengharapan banyak orang. Cahaya kemuningnya seolah terbias ke lapisan kabut. Ini nih yang bikin speechless.

And for the last day, we have ruwatan rambut gembel. Yaitu prosesi pemotongan rambut gimbal. Di Dieng ada beberapa anak yang berambut gimbal. Acara ini sendiri diartikan sebagai pembebasan dan penghilang balak atau sial dalam diri si anak dan agar si anak memiliki rambut yang normal. Ada beberapa versi tentang terjadinya rambut gimbal pada anak-anak di sekitaran Dieng. menurut kepercayaan masyarakat setempat, rambut gimbal tersebut adalah titipan dari leluhur masyarakat Wonosobo, Kyai Kolodete. Jadi kisahnya Kyai Kolodete merasa kerepotan dengan beban rambut gimbal diatas kepalanya, jadi beliau menitipkan rambut gimbal itu ke anak turunannya. Sebelum prosesi ruwatan, anak-anak tersebut akan dibebaskan mengutarakan permintaannya. Dan permintaan tersebut harus dipenuhi. Karena kalau dari kepercayaan tradisonal, permintaan itu tidak lain dan tidak bukan adalah permintaan dari leluhur sendiri. Prosesi acara biasanya diawali dengan kirab menuju Candi Arjuna dan dilakukan acara ruwatan dipelataran candi. Rambut yang dipotong kemudian dilarung di Telaga Warna yang nggak jauh dari lokasi candi. Pelarungan ke Telaga warna yaitu karena aliran air telaga akan bermuara ke Pantai Selatan, sebagai simbol pengembalian bala yang dibawa anak berambut gimbal kepada para dewa atau ratu dari Pantai Selatan.

Ya begitulah setidaknya penjelasan dari gue, yang beberapa merupakan hasil pencarian dari beberapa sumber juga, hehe.. Gue juga nggak expert dalam hal kebudayaan itu, jadi nggak bisa menjelaskan dari hal yang gue tau aja, nanti ujung-ujungnya ngaco.

So, kalau tahun depan atau kapan tau kalian ada kesempatan ke Dieng Culture Festival, maka datanglah. Nggak usah ragu. Nggak usah bingung akomodasi dll, karena cost di Dieng dan juga seputaran wilayah Wonosobo itu terjangkau kok, disana juga udah banyak homestay gitu. Dan terlepas dari DCF masih banyak lagi tujuan wisata yang ada disana. Malahan pembukaan area wisata tuh lagi gencar-gencarnya digarap sama pemerintah setempat. Kayaknya kampung halaman gue emang punya potensi besar untuk jadi icon wisata Jawa Tengah. Nyombong dikit nggak apa-apa lah ya 😁. Mulai dari Lubang Sewu atau sering disebut juga dengan 'Grand Canyon'nya Wonosobo, penyebutan nama alias ini bukan tanpa alasan yaa, next ada Gunung Prau (Salah satu bucket list gue yang belum kesampaian) berhiaskan pemandangan dengan karpet hijau nan cantik, view gelombang awan dan sapaan Gunung Sindoro-Sumbing yang menjulang dihadapannya -yang akhir-akhir ini sering banget muncul di feed instagramnya Folk Indonesia. Ada juga Puncak Sikunir dengan golden sunrisenya. Gunung Sindoro yang gagah banget pula, Gunung Lanang yang viewnya ciamik dan instagramable banget. Dan masih banyak banget lainnya. Gue emang belom ke semua tempat itu, tapi gue bisa jamin kalo tempat-tempat tersebut worth it untuk dikunjungi.

So, kita harus mengangkat potensi budaya dan sumber daya bangsa sendiri yaa.. Banyak kan daerah-daerah di Indonesia yang menyajikan tempat wisata yang menakjubkan? Tadi gue baru nyebutin seklumit kawasan wisata di daerah gue aja. Belom kalo di daerah yang lain, terus mlintir-mlintir sampai ke Nusa Dua, Raja Ampat, Wakatobi, Flores. Speechless nggak lo? Jadi jangan cuma nge-wah2-in potensi budaya atau sumber daya luar negeri aja. Jangan cuma berpikir, Yahh kaya temen gue dong udah sampe di Iceland, dia foto keren banget di blablabla, viewnya ngena abisss tiada duanya ! atau yang modelnya kaya gini nih, Kaya gue dong, sekali upload feed instagram gue isinya jalan-jalan ke luar negeri semua, keren kaaannn..
Sumpah emosi jiwa ! Jadi ya begitulah.. sebelum keindahan dan keharmonisasian cerita tentang Dieng Culture Festival tadi direnggut sama emosi gue, gue mau cabut.

Inget ya kata-kata gue, kita harus bangga dan mengangkat potensi budaya dan sumber daya bangsa sendiri !
Ya karena kalo bukan kita yang mengembangkan, melestarikan, siapa lagi ??
Lo pikir orang-orang yang sekarang peduli dan melakukan pengelolaan tentang kebudayaan dan sumber daya akan hidup terus?
Enggak kan? Selanjutnya adalah tugas dan kewajiban kita sebagai generasi selanjutnya yang dimiliki negeri ini untuk meneruskan atau malah meningkatkan value budaya dan sumber daya, entah itu SDM ataupun SDA nya.

Soccer is as Universal as Music

𛲣July 11th, 2018

Ternyata bukan hanya musik yang universal, sepak bola juga.

Ditengah-tengah semaraknya piala dunia 2018 -yang mana sebelumnya gue nggak peduli-peduli amat dan nggak merasakan euforianya. Kali ini gue dikejutkan dengan sebegitu antusiasnya orang-orang dikantor membahas si piala dunia ini. Dari status whatsapp -piala dunia, obrolan whatsapp -piala dunia, rencana pulang kantor -nobar piala dunia, obrolan di pantry -piala dunia, small talk -piala dunia. Dan pemandangan break out kantor bahkan berbackground bendera-bendera pemain piala dunia. 

Kita semua sebegitu tertariknya dengan si piala dunia ini. Even tho negara kita sendiri nggak ikut main coy, ya let's be clear, maksud gue negara kita pun sama sekali nggak pernah masuk list untuk main di piala dunia (hope we have a chance, soon). Tapi kita dengan semangatnya membela negara jagoan masing-masing. Kita rela begadang untuk menyaksikan pertandingan secara live dan rela nahan ngantuk pagi-pagi pas ngantor, ini bagi yang emang nahan ngantuk ya.

Sebegitu universalnya sepak bola. Terlepas dari piala dunia, hampir semua orang pasti punya team sepak bola kesayangan mereka. Terlepas dari piala dunia, kalau team sepak bola kesayangan mereka main, mereka kemungkinan besar akan nonton live.

Sekarang ini sepak bola bukan hanya menjadi lahan kaum adam. Banyak banget cewek-cewek yang menggandrungi sepak bola sekarang. Contohnya cewek-cewek di kantor, bahasan mereka akhir-akhir ini selalu seputaran bola, bahkan mungkin satu gedung ini, wew. Gue pribadi juga punya satu team sepak bola kesayangan dari dulu -Manchester United.

Kalau ditanya apa alasan cewek suka sepak bola, emm.. kemungkinan besar karena pemainnya ya. Kalo ada satu pemain aja yang kece di mata kita, kita pasti akan melabeli diri sebagai pendukung team tersebut. Kalo kita nonton bola, mata kita pasti tertuju kepada si pemain kesayangan, mengenai bolanya bergulir ke gawang yang mana, itu urusan belakangan.

Wait, wait.. tapi nggak gitu juga kok. Kalo gue ngeliat diri gue sendiri gue juga peduli dengan skor kami depan, kemanakah mereka setelah itu, siapakah yang kira-kira menjadi kandidat penggantinya, kenapa juga dia dengan koplaknya harus dijual atau keluar dari team kesebelasan, etc. Walapun gue nggak ngerti-ngerti amat juga tentang si sirkuit bundar ini, rules di lapangan, regulasi management atau apapun itulah, sampe-sampe kalo nonton pertandingan bola gue cuma kaya orang bego yang tau deh arah mata gue kemana, ngikutin gelindingan bola yang nggak gue tau apa maknanya, atau hal lain kaya, hah kenapa permainannya stop kaya gitu, pake acara ngumpul depan gawang team gue lagi tu lawan, eh eh apaan kok dia mau nendang bola ke gawang tim gue yang lain cuma mager aja baris didepan?? wait, wait.. apaan nih??, yah tapi FYI gue nggak sedongo itu lagi sekarang, gue tau hal itu dinamakan Offside, yang sebenernya gue kurang tau juga itu karena gimana. Tapi terlepas dari hal-hal tersebut ada kecintaan sendiri saat memiliki team kesayangan. See, lagi-lagi sepak bola menunjukkan ke universalannya. Walaupun mungkin dengan case yang berbeda.

Gue pernah jadi big fans dari salah satu ex MU -Robin Van Persie. Cool banget nggak si dia pembawaannya, uhh... Oke-oke bukan itu masalahnya. tapi tau-tau dia memilih untuk hengkang dari MU, padahal dia jagoan terbesar menurut gue, mana ganteng, hahh.. Kehilangan seorang striker macam dia, yang udah gue kagumi sekian lama, ternyata berat coy.. Gue nggak bisa bayangin sama penduduk Britania Raya yang bener-bener punya rasa sama ini orang, maksud gue big fansnya dia juga (baca : fansnya MU). Gimana sedih dan terpukulnya mereka, harus melepas si RVP ini dari kubu kesebelasan MU.

Awalnya gue berencana hengkang juga dari ke-Red Devil-an ini dan menyusul ke team terbarunya si ex nomor punggung 20 itu, atau ke team lain yang punya logo lumayan keren juga, J*vent*us. Gue nggak tau kenapa pake acara ngefilter tulisan itu, cuma kalo gue tulis terang-terangan gue ngerasa diri gue bagai penghianat banget, heh.. Akhirnya gue memilih stay di salah satu klub sepak bola terkaya ini. At least juga gue masih suka baju bolanya, walau ada keinginan besar buat gue melepas logo chevr* yang annoying, gede banget kaya lapangan basket.

Ngomongin nonton piala dunia, pasti ada pemutaran national anthem sebelum permainan di mulai. Walaupun kita hanya sebagai pendukung, yang notabene nggak satu negara, banyak juga yang ikut menyenandungkan lagu kebangsaan tersebut saat di putar. Ini bukan lagi soal patriotisme, ini bukan berarti mereka menjunjung tinggi negara lain dan menghilangkan kecintaan pada bangsa sendiri, sensi banget kalo pikirannya kaya gitu. Tapi karena kecintaan mereka pada sepak bola. Pada euforia yang mereka rasakan.

Beberapa orang bahkan memilih menonton piala dunia ini ditempat yang emang banyak penonton yang satu kubu sama mereka. Kaya orang satu kantor gue, dia dukung Inggris, dia nonton pertandingan Inggris vs Prancis di tempat yang emang banyak orang Inggrisnya nonton disana, pokoknya yang banyak supporter Inggris. Kata dia, biar seru, kalo menang seneng bareng, kalo kalah sedih bareng. Lagian nggak lucu juga dia nonton di tempat yang banyak supporter lawan. Iya kali dia mau sorak sorai sendiri kalo mereka kalah. 

Well.. jadi begitulah setidaknya yang gue maksudkan dari tema postingan ini. Dari negara manapun lo berasal, lo bisa suka team dari negara mana aja. Sekalipun nggak ngerti dunia persepak bolaan sama sekali, kita masih bisa suka sama sepak bola. Entah gimanapun backgroundnya, mau cewek ataupun cowok, ada aja yang buat kita suka sama sebuah team sepak bola, terlepas dari alasan-alasan apapun itu. Yah.. walaupun kecintaan kita kadang musiman. Tapi kecintaan kita pada sepak bola itu terbukti Universal -dalam pandangan gue.

Jadi, terus dukung tim kebanggaanmu,
Kalah ataupun menang...

Untitled

𛲠May 07th  , 2018

Kadang.. gue punya pemikiran untuk hidup dengan diri gue sendiri.

Hidup memisah dengan dunia dan lainnya.

Menyepi disebuah tempat antah berantah yang akan gue sebut indah.


Tempat yang dilapisi savanna yang luas dan dikelilingi pepohonan.

Dengan beberapa bagian menguning dan dihiasi karpet bunga.

Dibelah sungai kecil yang senantiasa mengalir.

Dengan atapnya yang pasti, lautan langit berombak awan.


Dimana aku duduk bersandar di bawah pohon, dengan angin menyapu lembut rambutku.

Dengan langit yang seolah terbelah oleh jubah jingga yang semakin lama semakin memudar.

Diisi oleh pergantian hari yang jingga kekuningan - ungu keabuan.

Warna yang saling memburu berkompetisi dengan ombak putih yang seolah dilemparkan.

Tipis dan menggumpal, berwarna senada dengan sang surya dibeberapa sisinya.


Sinar hangatnya meredup.

Lalu disambut gelap yang cantik.

Dengan bintang bertabur pada gulitanya malam.

Banyak..

Baanyaak..

Benar-benar banyak.


Lalu aku berbaring di rerumputan.

Dengan wajah menengadah menatap jutaan keping berlian.

Oh, dan.. aku mendapat alunan instrumental dari suara hewan malam.

Beradu dengan deru gemericik sungai yang terdengar pelan.


Lalu paginya disambut si bintang subuh, Merkurius.

Dan diujung langit yang terpapas bumi, kau bisa melihat sang surya merekahkan dirinya.

Seolah langit terbelah dua, dan semburat jingga menyembur disetiap selanya.


Sungguh, kau tak perlu tawarkan aku apa-apa lagi.


Indah...

Seolah, aku tak perlu apa-apa lagi.


Indah...

Aku tak perlu apa-apa lagi.

Bring Peace to The World